Kamis, 28 Mei 2015

PERGUMULAN ISLAM DAN NASIONALISME ( Perjuangan Dasar Negara )




A. Pendahuluan
Proses kelahiran Dasar negara (Pancasila) bagi bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang dan menampilkan berbagai ragam organisasi dan tokoh-tokoh nasional yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Dalam perumusannya berhimpunlah berbagai tokoh dengan latar belakang pendidikan dan kondisi yang berbeda sertakarakter yang beraneka ragam, sehingga terjadilah pergumulan konsep yang sengit untuk melahirkan konsep teoritis sebuah landasan negara.
Namun hanya ada 2 kelompok yakni yang bersifat nasional Islam dan nasional sekuler, demikian juga halnya konsep yang dilontarkan agar menjadi landasan negara hanya 2 macam yakni; Landasan negara yang bersifat nasional dan landasan negara yang berdasarkan Islam. Sekalipun perbedaan yang sengit terjadi, akhirnya tercapai juga kompromi dengan mengakomodir kedua perbedaan yang melahirkan Piagam Jakarta dalam sidang BPUPKI.

DINASTI TIMURIAH



A.      Pendahuluan
Sebagaimana perkembbangan sejarah Islam di belahan dunia lain, Islam yang hadir di tengah-tengah bangsa Asia Tengah dan sekitarnya pun menorehkan sejarah panjang yang patut dikaji. Apa yang pernah diukir dalam sejarah mereka, juga melahirkan tragedi romantik yang menarik untuk dijadikan teladan bagi generasi berikutnya.
Sejarah panjang bahasa Mongol, sebagai kekuatan imperium dunia saat itu tidak lepas dari figur sentral pemimpin monarki yang bernama Chengis Khan. Ia menjadi tokoh utama dalam episode panjang pada perkembangan bangsa Mongol berikutnya. Siapa yang menduga, bahwa kekejaman mereka terhadap pusat pemerintahan Islam di Bagdad, terjadi menjadi anti klimaks dari idealismenya membangun imperium dunia. Justru dari daerah dagingnyalah tercatat dalam tinta emas peradaban Islam yang agung dan monumental. Peradaban Islam Mongol tidak kalah pentingnya dengan peradaban Islam di Asia Barat, Eropa Barat Daya (Andalusia), Afrika Utara, bahkan di anak benua India sekalipun. Mereka berhasil menggoreskan hasil peradaban dalam bidang ketatanegaraan, militer, politik, ekonomi, sosial, dan budaya, termasuk juga arsitektur yang bernilai istimewa. Daerah kekuasaan selama kepemimpinan Mongol Islam dalam tiga dinasti, juga melebihi luas kekuasaan dinasti Islam yang pernah ada sebelumnya.[1]

ALIRAN IRAK (PENULISAN SEJARAH ISLAM)



BAB I
 
PENDAHULUAN

          Penulisan sejarah adalah usaha rekonstruksi peristiwa yang terjadi di masa lampau. Penulisan itu bagaimana pun baru dapat dikerjakan setelah dilakukannya penelitian, karena tanpa penelitian penulisan menjadi rekonstruksi tanpa pembuktian. Dalam penelitian dibutuhkan kemampuan untuk mencari, menemukan dan menguji sumber-sumber yang benar. Sedangkan dalam penulisan dibutuhkan kemampuan menyusun fakta-fakta yang bersifat fragmentaris dan selanjutnya disusun ke dalam suatu uraian yang sistematis, utuh dan komunikatif. Keduanya membutuhkan kesadaran teoritis yang tinggi dan serta imajinasi historis yang baik.[1]
            Perkembangan ilmu sejarah dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari perkembangan budaya secara umum yang berlangsung sangat cepat.[2] Dalam bidang politik, hanya dalam satu abad lebih sedikit, Islam sudah menguasai Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina, Semenanjung Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afghanistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenia, Uzbekistan dan Kigris di Asia Tengah. Seiring dengan perkembangan budaya dan peradaban Islam. Ilmu sejarah dalam Islam lahir dan berkembang.
            Penulisan sejarah Islam berkembang dari masa ke masa, mengikuti perkembangan

HADIS : SESUDAH ZAMAN SAHABAT HINGGA SEKARANG



A.  Pendahuluan

Hadis adalah sumber hukum Islam yang pertama sesudah Alqur’an. Selain berkedudukan sebagai sumber hukum, Hadis memiliki fungsi sebagai penjelas, perinci dan penafsir Alqur’an. Berdasarkan hal ini, kajian tentang Hadis memiliki kedudukan yang penting di dalam studi ilmu sumber hukum di dalam Islam.
Salah satu usaha membangun pemahaman tentang Hadis adalah pemahaman tentang sejarah Hadis sesudah zaman sahabat hingga sekarang. Sejarah penulisan Hadis seringkali menjadi bahan kontroversi di kalangan sebagian kaum muslim maupun non muslim. Ada sebagian yang menolak untuk menerima otentisitas Hadis Nabi lantaran mereka berargumen bahwa Hadis Nabi ditulis dan dibukukan dua abad sesudah wafatnya Rasulullah Muhammad, suatu rentang waktu yang agak lama berlalu sehingga dapat menyebabkan timbulnya perubahan dan pergeseran lafazh serta makna Hadis yang bersangkutan. Mereka ini beranggapan hanya berdasarkan asumsi rasional semata dan tidak melihat serta meneliti berbagai argumen yang bisa diterima oleh syari’at Islam serta tidak mengkaji serta menelaah sejarah penulisn dan pembukuan Hadis dengan benar. Sementara di sisi yang lain ada sebagian kaum yang secara tekstual menerima begitu saja Hadis Nabi tanpa mempedulikan kesahihan dan ketidaksahihannya. Oleh karena itu, pada makalah ini akan disajikan uraian tentang sejarah Hadis sesudah masa sahabat hingga sekarang.

FRANCIS FUKUYAMA: THE END OF HISTORY AND THE LAST MAN



A.   Pendahuluan
Di penghujung abad ke-20 ini, dalam ilmu-ilmu sosial, disemaraki oleh dua buku: pertama dari Francis Fukuyama, The End of History and the Last Man (1992), dan kedua dari Samuel P. Huntington, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996). Kedua buku tersebut oleh para sarjana sosial di sebagian besar dunia memang telah ditempatkan sebagai buku terpenting untuk memahami kondisi global setelah usai Perang Dingin.[1]
          Karya monumental Francis Fukuyama mengartikulasikan sebuah paradigma yang diawali dengan pembahasan bahwasanya di abad 21 ini terutama pasca Perang Dingin, telah menjamur ‘perdamaian’ di seluruh dunia. Berakhirnya masa berlaku ideologi lain, baik yang Moderat dan Kiri di panggung internasional, dengan mudahnya disimplifikasikan sebagai ‘Kemenangan’ ideologi Barat. Begitupun dalam ekonomi, komoditi yang semakin meluas, baik ragam produk (terutama fashion, dan teknologi informasi), geografis (pemasaran) maupun level pembeli (konsumen) juga dimasukkan sebagai pembenar finalnya peradaban manusia.

ISLAMIC VIEW OF VALENTINE’S DAY




Valentine's Day is a holiday celebrated on February 14. It is the traditional day on which lovers express their love for each other; sending Valentine's cards, or offering candy. It is very common to present flowers on Valentine's Day. The holiday is named after two among the numerous Early Christian martyrs named Valentine. The day became associated with romantic love in the circle of Geoffrey Chaucer in High Middle Ages, when the tradition of country love flourished.
Ceremony of Valentine’s Day comes from West (America and Europe). This day becomes popular because of respect to Christian martyrs named Valentine. It is western custom. Because of western custom, it is not appropriate to Indonesia culture also called East custom. Furthermore Islam is the majority religion professed by most native of Indonesia. Ceremony of Valentine’s Day becomes a contasting thing to Islam.

Selasa, 12 Mei 2015

DUNIA ARAB MENJELANG KELAHIRAN ISLAM



1.      PENDAHULUAN
Arab, dahulunya didiami oleh satu bangsa saja, bahasanya pun satu pula, yaitu bahasa Saam. Oleh sebab itu maka bangsa Arab itu dihitung satu asal dengan bangsa Ibrahim, Siriani, Asyur dan Kaldan. Cuman menjadi pertikaian diantara ahli – ahli Ilmu asal usul keturunan dan Ilmu menyelidiki bentuk tubuh manusia (Biologi dan Antropologi ),  tentang tempat diam bangsa Saam yang asal. Didalam kitab Taurat tersebut  bahwasanya tempat tinggal bangsa manusia yang mula – mula ialah diantara dua sungai besar Furat dan Dajlah ( Tigris ), dari sana dia terpecah – pecah kemana – mana. Dari bangsa Saam itu terpecahlah menjadi bangsa Asyur dan bangsa Babil dinegeri Irak, dan menjadi bangsa Aram dinegeri Syam, dan menjadi bangsa Punisia dipantai Suriah, menjadi bangsa Ibrani dinegeri Palestina dan menjadi bangsa Arab disemenanjung tanah Arab, dan menjadi bangsa Ethiopia dinegeri Habsyi.