Minggu, 02 Februari 2014

PERJUANGAN DAN KEMERDEKAAN BANGSA MUSLIM (MESIR DAN AFRIKA UTARA)

A.     PENDAHULUAN
    Mesir merupakan pintu masuk ke Afrika Utara .  Islam sampai ke Mesir melalui upaya ekspansi yang dilakukan oleh Umar ibn Khattab  pada tahun 641 M.  Dari sini Islam sampai kedaratan Afrika Utara. Keberadaan dan Perjalanan sejarah ummat Islam di Mesir dan Afrika Utara diawali dari usaha ekspansi yang dilakukan Periode modern dalam sejarah Islam bermula dari tahun 1800 M dan berlangsung sampai sekarang. Di awal periode  ini kondisi dunia Islam secara politis berada di bawah penetrasi kolonialisme. Baru pada pertengahan abad ke 20 M, dunia Islam bangkit memerdekakan negerinya dari penjajah barat.  
Adapun Negara-negara yang berada di daratan Afrika Utara terdiri dari Sudan, Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libia berasal dari suku Barbar. Bangsa pengembara Barbar, diperkirakan sejak tahun 3000 SM telah menjadi penduduk asli seluruh Afrika Utara.

Ummat Islam di Mesir dan Afrika Utara telah mengalami masa sulit yang disebabkan oleh penjajahan bangsa Barat (Eropa). Dalam sejarah perjuangan mereka terlihat bagaimana usaha mereka dalam melepaskan diri dari para penjajah dengan gerakan-gerakan kesatuan yang mengutamakan kepentingan agama dan negara sehingga mengantarkan mereka menjadi Negara yang merdeka.

B.    PERJUANGAN DAN KEMERDEKAAN BANGSA MUSLIM DI MESIR DAN AFRIKA UTARA
    1.    MESIR
Mesir merupakan negeri Afrika Utara yang memiliki arti sangat penting. Pasalnya negeri ini dekat dengan pusat dunia Islam dan merupakan jalan masuk ke negeri-negeri Afrika lainnya. Mesir di pisahkan oleh dua lautan yaitu Laut Tengah dan Laut Merah.
Orang-orang Yunani menyebut Mesir dengan nama Egyptus yang mereka dengar dan ambil dari orang-orang sebelumnya sejak masa dahulu. Dan nama Egyptus ini disebut berulang kali dalam syair-syair pujangga besar Yunani, Homerus.
Luas wilayahnya mencapai 1.001.400 km2 dengan jumlah penduduk 66 juta jiwa dan ummat Islam 94%. Dalam sejarahnya yang panjang Mesir pernah dikuasai oleh  beberapa orang-orang asing diantaranya Alexander The Great dari Macedonia  pada tahun 332 SM dan dilanjutkan oleh para penggantinya sampai terahir kepada Cleopatra tahun 30 SM. Sesudah itu Ramawi dan Byzantium menguasai Mesir hingga tahun 20 H/640 M. Kaum muslimin menaklukkannya dengan damai di bawah pimpinan Amr bin Ash pada masa khalifah Umar ibn Khattab tahun 641 M.  Selanjutnya Mesir dikuasai oleh penguasa-penguasa muslim yang ada pada waktu itu, diantaranya adalah Dinasti Fatimiyah, Dinasti Mamalik , Dinasti Turki Usmani.
Pada rentangan abad delapan belas, disebabkan lemahnya control Usmani, persaingan antara beberapa faksi mamluk mengakibatkan terbengkalainya irigasi, kemerosotan pajak, meningkatnya otonomi kesukuan. Melemahnya pengaruh Usmani menyebabkan perubahan besar dalam seluruh system kemasyarakatan Mesir. Keadaan ini membuka kesempatan orang-orang barat (eropa) masuk ke Mesir untuk menjajah.  
Penetrasi Barat ke pusat dunia Islam pertama-tama dilakukan oleh dua bangsa Eropa terkemuka yaitu Inggris dan Prancis. Inggris terlebih dahulu menanamkan pengaruhnya di India. Prancis merasa perlu memutuskan hubungan komunikasi antara Inggris di Barat dan India di Timur. Oleh karena itu pintu gerbang ke India yaitu Mesir harus di bawah kekuasaannya. Untuk maksud tersebut Mesir dapat ditaklukkan Prancis melaui seorang panglima ekspedisi Prancis Napoleon Bonaparte.
Alasan lain Prancis menaklukkan Mesir adalah untuk memasarkan hasil-hasil industrinya. Mesir disamping mudah dicapai dari Prancis juga dapat menjadi sentral aktivitas untuk mendistribusikan barang-barang mereka ke Turki, Syria, Hijaz. Dibalik itu Napoleon sendiri mempunyai keinginan untuk mengikuti jejak Alexander The Great dari Macedonia, yang jauh di masa lalu pernah menguasai Eropa dan Asia sampai ke India. 
Penjajah Prancis yang dipimpi Napoleon telah sampai di tempat ini pada tahun 1213-1216 H/1798-1801 M.  Inilah awal dari kekalahan besar psikologis kaum muslimin di hadapan orang-orang Eropa. Sebagai mana diketahui bahwa sebelumnya ummat Islam menjadi penguasa dan merupakan pusat peradaban dunia pada masa sebelumnya. Ketika itu peradaban Islam dapat dikatakan paling maju, memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru dunia, sementara Bangsa Barat sedang berada dalam kebodohan dan keterbelakangan. Keadaan ini menimbulkan lahirnya para tokoh pembaharu seperti Jamaluddin al-Afghani (1839-1897 M)  yang dikenal sebagai bapak Nasionalisme dalam Islam karna perjuangannya menyerukan Pan Islamisme.
Perlawanan Bangsa Mesir terhadap penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa diawali dari seorang pembaharu yang bernama Muhammad Ali. Awalnya beliau adalah seorang panglima perang dari Turki Utsmani. Ketika masa hidupnya (1220-1265 H/1805-1849)  beberapa daerah dapat ditaklukkannya, seperti Sudan, Syam dll. Beliau memiliki perhatian yang besar dalam upaya menjadikan Mesir sebagai negara yang modern, mengikuti kemajuan yang telah dicapai Eropa.
Pada masa kakuasaan al-Khudaiwi Taufiq, Prancis dan Inggris ikut campur dalam hampir seluruh segi kehidupan di Mesir. Ini merupakan bentuk penghianatan terhadap bangsanya, maka rakyat dan tentara membencinya. Lalu muncul revolusi Ahmad Arabi yang dipadamkan oleh Inggris dan sekaligus menguasai Mesir pada tahun 1882 M. 
Keadaan ini menimbulkan pemberontakan yang dilakukan rakyat terhadap Muhammad Ali. Pemimpin-pemimpin nasional yang memiliki kecenderungan terhadap Islam muncul seperti Mustafa Kamal dan Muhammad Farid. Dalam keadaan itu Inggris menarik diri dan menghapuskan perlindungannya terhadap Mesir dan memberikan kemerdekaan pada Mesir pada tahun 1922. Dan selanjutnya Muhammad Ali terus menguasai Mesir sampai pada keturunannya yang terahir yaitu Raja Faruq. Dan tumbang setelah terjadinya revolusi yang dipimpin oleh para perwira Mesir pada tahun 1952 M, selanjutnya dimulailah sistem republik di negeri ini.   Dan tampillah Muhammad Najib sebagai presiden pertama. Kemudian disingkirkan oleh Jamal Abdul Naser yang memegang kekuasaan antara tahun 1953-1970 M. Setelah beliau wafat maka digantikan oleh Anwar Sadat. Pada masa kekuasaannya Mesir dan Suriah terlibat perang melawan Israel pada tahun 1973 M. Tahun 1979 M ditandatanganilah persetujuan damai dengan Israel di Camp David yang memberikan wilayah kepada Israel. Akibatnya pada tahun 1981 Anwar Sadat dibunuh oleh salah satu tentaranya. Selanjutnya Mesir di pimpin oleh wakilnya Husni Mubarak sampai sekarang.

2.    AFRIKA UTARA
Afrika Utara sampai tahun 850 dikuasai oleh Bani Aghlab, meliputi wilayah Ifriqyah (Tunisia) dan sebagian pulau Sisilia yang merupakan negara bagian daulah Abbasiyah. Wilayah disebelah baratnya berkuasa Bani Rustamiah di Aljazair dan Bani idris di Maroko, sedangkan Spanyol berada dibawah kekuasaan Bani Umayyah II. Semua dinasti ini berkuasa sampai tahun 909. Namun sesudah tahun 909 muncul sebuah dinamika baru, terbentuknya sebuah Negara Fathimiyah di Maroko berdiri pada tahun 297 H/910 M, dan berakhir pada 567  H/1171 M , yang pada awalnya  hanya merupakan sebuah gerakan keagamaan yang berkedudukan di Afrika Utara, dan kemudian berpindah ke Mesir.
Diantara negara-negara berpenduduk muslim yang berada di daratan Afrika Utara yaitu dari Sudan, Maroko, Aljazair, dan Libya berasal dari suku Barbar. Bangsa pengembara Barbar, diperkirakan sejak tahun 3000 SM telah menjadi penduduk asli seluruh Afrika Utara.

a.    Sudan
Merupakan Negara terbesar di Afrika. Luasnya mencapai 2.505.813 km2, terletak di Timur Laut Afrika (sebelah selatan Mesir). Jumlah penduduknya berdasarkan data statistic mencapai 25.500.000 jiwa dengan persentase kaum muslimin sebanyak 75% (mayoritas pengikut sunni). Dan sumber utama pendapatannya adalah kapas dan ternak.  Merdeka dari penjajahan Inggris pada 1 Januari 1956.
Sudan pernah dikuasai oleh Turki Utsmani di bawah pimpinan gubernur Muhammad Ali yang memerintah di Mesir, yang juga mendapat dukungan dari kolonial Inggris. Pemerintahannya cukup keras, dan baru ketika Muhammad Ali digantikan oleh Ali Khursid Agha, rakyat setempat mulai dilibatkan dalam pengambilan keputusan pemerintah. Untuk selanjutnya wilayah ini akhirnya berada di bawah kolonialisme Inggris.  Hingga tahun 1881 M dari putra-putra daerah belum ada yang berani memimpin dan mengorganisasi bagi upaya kemerdekaan Sudan. Sampai akhirnya muncullah tokoh Muhammad Ahmad yang berani memimpin pasukan untuk memimpin pasukan untuk merebut kemerdekaan. Pasukannya berhasil menguasai Khartoum pada 28 Januari 1885, namun dengan cepat pasukan Inggris mematahkan perjuangan mereka. Akhirnya pada Februari 1953 pemerintah Inggris dan Mesir, menyepakati Sudan untuk diberi kebebasan mengatur pemerintahan sendiri. Pada 1 Januari 1956 Sudan menjadi Negara yang berdaulat penuh dalam menentukan masa depannya. 
Perang saudara di negeri ini merupakan konflik terpanjang dalam sejarah Afrika. Tahun 1972 pernah dicapai kesepakatan damai tapi tak pernah lama. Konflik paling tajam yakni antara pemerintah pusat di Sudan Utara yang mayoritas muslim dengan kelompok-kelompok etnik di Selatan yang dimotori Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SPLA). Islam merupakan agama mayoritas yang dianut oleh 73% penduduk Sudan. Sementara di Selatan mereka masih menganut agama kepercayaan local dan tradisional dengan jumlah 16,7%.  
Kesenjangan penduduk di Sudan nyata sekali antara Utara dan Selatan. Keduanya memiliki perbedaan, Sudan Utara ditempati oleh mayoritas keturunan etnik Arab dan bahasa Arab menjadi bahasa pengantar. Sementara di Sudan Selatan mayoritas ditempati oleh etnik Negro dengan dominan keragaman suku dan kepercayaan tradisional mereka.
Sudan yang merupakan salah satu basis Islam di Afrika, yang menjembatani kepentingan suku-suku pedalaman Afrika dengan dunia Islam Arab khususnya. Dan saat ini banyak kaum muslim dari luar Arab yang melakukan studi ke Sudan, khususnya dalam mencari spesialisasi dalam model pengembangan Bahasa Arab bagi penduduk bukan Arab (ajam). Dalam hal ini Sudan telah terbukti melakukannya.

b.    Maroko   
Maroko memiliki luas wilayah 458.730 km2 dan 99% dari 27 juta jiwa penduduknya adalah muslim sunni,  Dalam perjuangan bangsa Maroko pengaruh salafiyah mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangannya.
Prancis menguasai Maroko pada tahun 1911 M . Perjuangan rakyat Maroko dalam mengusir penjajah berlangsung dengan dipimpin oleh para pemimpin mereka seperti Sultan Muhammad V bin Yusuf (1927-1960 M) beliau memiliki keinginan menuntut kesatuan dan kemerdekaan.
Gerakan pembaruan salafiyah menyebar sampai ke Maroko pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. Terdapat kecenderungan umum untuk menyamakan rwformisme salafiyah di Marokodengan nasionalisme. Reformisme dan perjuangan ummat Islam di Maroko memang menjadi kait mengait dengan nasionalisme pada 1930-an. Para Seikh Sufi seperti Muhammad ibn ‘Abd Al-Kabir Al-Kattani (wawancara 1909 M) dan Ahmad Al-Hibah (w.1919 M) mencoba meminpin perlawanan secara tegas terhadap pemerintah kolonial.
Gerakan Salafiyah pada akhirnya bergabung dengan Nasionalisme Maroko, seperti yang terwujud dalam partai Istiqlal dan pemimpinnya yang termasyhur, Muhammad ‘Allal Al-Fasi. Dengan bersatunya rakyat dan partai-partai maka bangkitlah gerakan revolusi rakyat  Maroko yang memaksa pengembalian hak dan tanah air mereka yang dijajah oleh Prancis. Akhirnya terjadilah perundingan diantara mereka hingga akhirnya Maroko memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1375 M/1956 M. Kekuasaan negeri ini lalu selanjutnya berkembang dibawah para raja-rajanya yang meminpin silih berganti dan rajanya sekarang adalah Muhammad ibn Hasan ibn Muhammad.
c.    Al-Jazair
Ibukota Negara ini berpusat di Algeirs, populasi penduduknya berjumlah sekitar 12.300.000 luas wilayahnya 919.00 Mil (2.331.123 km).   Dahulu wilayah ini dikenal dengan nama Maroko Tengah. Setelah terpecahnya pemerintahan al-Muwahhidun, Banu Zayyan lalu menguasainya. Kemudian berganti dengan orang-orang Hafshiyyah dan orang-orang Mariniyah. Saat itu Spanyol telah mulai menguasai tempat-tempat di Aljazair. Maka pemerintahan Utsmaniyah dengan perantaraan Khairuddin Barbarosa menguasainya pada tahun 924 H/1518 M.  Dia berhasil mengambil kembali kota-kota pesisir dari tangan orang-orang Spanyol dan akhirnya dapat menguasai pelayaran di laut tengah. Maka jadilah negeri itu sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Utsmaniyah.
Aljazair tunduk dibawah penjajahan Prancis pada tahun 1830 M.  Mereka berbuat sesuka hati terhadap rakyat Aljazair. Pembunuhan, upaya menciptakan kelaparan terhadap rakyat terjadi di setiap tempat. Akibatnya rakyat mengalami penderitaan yang tiada terhingga. Keadaan ini menimbulkan semangan bagi rakyat untuk melakukan jihat, merekapun bersatu dari berbagai suku.
Diantara para pemimpin terkenal mereka adalah Abdul Qadir Mahyuddin (1832-1847 M), kemudian Pemimpin revolusi terkenal mereka adalah Muhammad Maqrani yang meminpin gerakan revolusi  pada tahun 1871. Dengan 100.000 orang dari berbagai suku dia berhasil mengalahkan kekuatan Prancis. Akan tetapi kembali Prancis dapat mengalahkan mereka. Dan pada tahun 1945 rakyat Aljazair menuntut kebebasan dan kemerdekaannya. Tetapi Prancis mencegah mereka dengan melakukan tindakan sewenang-wenang yang berupa permusuhan, pembunuhan dan penghancuran. Kesewenang-wenangan ini telah mendasari dimulainya revolusi besar pada tahun 1954. Seluruh rakyat Aljazair berjuang sampai menimbulkan korban 1,5 juta orang dari mereka untuk meraih kemerdekaan dan akhirnya mereka berhasil meraih kemerdekaannya pada tahun 1962.

d.    Libya
Libya terletak di Laut Tengah Afrika Utara dan ibu kotanya Tripoli. Luas wilayahnya sekitar 680.000 mil (1.761.200 km.) dengan jumlah penduduk sekitar 4.206.000 jiwa.  Dahulu Libya tunduk kepada Bani Hafsh. Ketika mereka melemah, negeri ini mulai memasuki masa kelemahan, kegoncangan dan ketidakstabilan. Dan akibatnya Libya jatuh ke tangan Spanyol pada 1510-1530 M. selanjutnya pada tahun 1530-1551 M negeri ini jatuh ke tangan orang-orang misionaris nasrani yang dipimpin oleh panglima suci Yohanes.
Pada tahun 1551-1711 Ummat Islam berhasil menguasai daerah ini melalui orang-oang Turki Utsmani, melalui perjuangan yang mereka lakukan untuk mengusir penguasa Kristen dari Libya. Maka mulailah Libya di kuasai Turki Ustmani. Namun sepanjang masa kekuasaan Turki ini, Libya berada dalam kondisi menderita disebabkan oleh kekacauan, kesewenang-wenangan, dan pengabaian kepentingan rakyat. Wilayah kekuasaan Ustmaniyah ini mengalamikemunduran bersamaan dengan mundurnya khilafah sampai dengan kehancurannya.
Keadaan ini memberi kesempatan bagi Italia. Untuk itu mereka memerintahkan Ustmaniyah agar meninggalkan Libya dan menyerahkannya kepada mereka. Ustmaniyah memenuhi perintah ini disebabkan kelemahaannya. Maka Libya pun jatuh ke tangan orang-orang Itali (1330-1911 M). Ketika Orang-orang Itali menguasai Libya, terjadilah tindakan sewenang-wenang terhadap rakyat, penindasan yang mengerikan serta membolehkan segala sesuatu terjadi di negeri ini, sehingga berjatuhanlah korban dalam jumlah yang banyak.
Keadaan ini menimbulkan terjadinya perlawanan nasional di sejumlah tempat. Namun berakhir dengan kegagalan karena kuatnya Itali dalam mengatasinya. Diantara gerakan kebangkitan dan jihad yang paling terkemuka adalah gerakan yang dipimpin oleh Syaikh Umar Mukhtar (1923-1913) yang berakhir dengan penangkapannya dan ia dihukum mati.
Setelah kekalahan Itali dalam perang Dunia II, kekuatan sekutu menjalin kerja sama dengan orang-orang Libya dalam mengusir Itali dari Libya pada tahun 1943. Administrasi pemerintahan Libya dikendalikan oleh sekutu Inggris dan Prancis hingga negeri itu memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1951 M. 
Setelah itu maka Libya dipimpin oleh rajanya Muhammad bin Idris as-Sanusi. Dia adalah raja pertama dan terakhir kerena kemudian terjadi kudeta militer lewat revolusi al-Fatih pada September 1969. Revolusi ini telah menghapus system kerajaan dan mengumumkan system republic. Pemimpin revolusi ini adalah Kolonel Muammar Khadafi. 
 
C.     PENUTUP
Keberhasilan ummat Islam pada masa keemasannya menjadikan Islam tersebar di berbagai penjuru dunia seperti Daratan Afrika. Bahkan dibeberapa Negara Afrika, Islam menjadi besar dan menjadi pusat kekuatan ummat Islam. Dari sana Islam memberikan pengaruhnya pada dunia. Akan tetapi ketika Ummat Islam lemah sebaliknya bangsa barat bangkit dengan renaisence dan revolusi industry mereka yang dapat mengalahkan kekuatan ummat Islam dan menjajah negeri-negeri Islam di berbagai benua.
Afrika Utara yang merupakan salah satu basis kekuatan ummat Islam selain daratan Arabia tak luput dari penjajahan bangsa barat. Diantara Negara-negara di Afrika Utara yang mayoritas penduduknya ummat Islam adalah Mesir, Sudan, Maroko, Aljazair dan Libya.
Negara-negara tersebut taklupun dari kejamnya penjajahan yang dilakukan bangsa barat (eropa) melalui tindakan sewenang-wenang, pembunuhan dan ketidak adilan yang dilakuakn terhadap rakyat. Hal ini menimbulkan lahirnya gerakan perjuangan dan jihad yang diseponsori oleh tokoh-tokoh Islam melalui perjuangan yang gigih dalam usaha melepaskan diri dari penjajah. Dan pada akhirnya berkat usaha kerja keras yang mereka lakukan mereka berhasil mengusir penjajah dari negeri mereka dan menjadi Negara yang merdeka sampai sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam (Jakarta: Grafindo Persada, 2009)
Al-Usairy Ahmad, Sejarah Islam, (Jakarta: Akbar, Cet. I, 2007)
K Hitti Philip, History Of the Arabs, Terjemahan Oleh R.Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta: Serambi, 2006)
Mufradi Ali, Islam di kawasan kebudayaan Arab, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997) hal
Thaqusy Muhammad Sahil, Tarikhul Fathimiyyin fi syimali afriqiyah, mishra wa biladis Syam (Beirut: Darun Nufas Beirut, 2001), hal 3.
Yatim  Badri, MA, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008)

1 komentar:

  1. artikel yang sangat menarik..jangan lupa mampir di blog saya ya...http://armanyuni.blogspot.com/

    BalasHapus