Rabu, 15 Mei 2013

DINASTI FATHIMIYAH

A.    Pendahuluan
Berakhirnya kekuasaan Daulah Abbasiyah di awal abad kesembilan ditandai munculnya disintegrasi wilayah. Di berbagai daerah  yang selama ini dikuasai, menyatakan melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah do Baghdad dan
membentuk daulah-daulah kecil yang berdiri sendiri  (otonom). Di bagian barat, muncul dinasti ldrisiyah, Aglabiyah, Tuluniyah, Fathimiyah, Ikhsidiyah, dan Hamdaniyah.
Dinasti Fathimiyah adalah salah satu dari Dinasti  Syiah dalam sejarah Islam. Dinasti ini didirikan di Tunisia pada tahun 909 M. sebagai tandingan bagi penguasa dunia muslim saat itu yang terpusat di Baghdad, yaitu bani Abbasiyah. Dinasti Fathimiyah didirikan oleh Sa'id ibn Husain, kemungkinan keturunan perdiri kedua sekte islamiyah1
Dinasti Fathimiyah merupakan salah satu dinasti Syiah dalam sejarah Islam yang pernah ada dan juga memiliki andil  dalam memperkaya khazanah sejarah peradaban Islam. Makalah ini akan mendiskripsikan Dinasti Fathimiyah dengan berbagai aspeknya yang mencakup latar belakang berdirinya, dinamika keagamaan, sosial, politik, intelektual, ekonomi dan Kemunduran dan kehancuran Dinasti.
B.    Latar Belakang Berdirinya Dinasti Fathimiyah
1.    Asal-usul dan Sfilsilah Dinasti Fathimiyah
Dinasti ini mengambil namanya dari Fatimah az-Zahra, Putri Rasulullah SAW. Karena para khalifah  Fathimiyah mengembalikan asal-usul mereka kepada Ali bin  Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW.2  Dinasti Fathimiyah didirikan oleh Sa’id Ibn Husain kemungkinan keturunan  pendiri kedua sekte  islamiyah, seorang  Persia  yang bernama Abdullah Ibn Maymun3
Said mengaku dirinya sebagai putera, Muhammad al-Habib seorang cucu Imam Islamiyah. Namun kalangan Sunni , berpendapat bahwa Sa’id berasal dari keturunan Yahudi sehingga dinasti yang didirikannya pada awalnya disebut dinasti Ubaidillah. Sementara beberapa sejarawan berpendapat bahwa Sa’id memang berasal dari garis keturunan Fatimah puteri Nabi Muhammad SAW, yang bersambung garis keturunannya hiagga Husain bin Ali bin Abi Thalib. Beberapa sejarawan terkemuka yang mendukung keabsahan silsilahnya adalah Ibn al-Atsir, Ibn Klialdun, dan al-Maqrizi.4
Silsilah Kekhalifaan Fathimiyah5
1.    Al-Mahdi (909-934)
2.    Al-Qa’im (934-946)
3.    Al-Manshur (946-952)
4.    Al-Muizz ( (952-975)
5.    Al-Azizi (975-996)
6.    Al-Hikim  (996-1021)
7.    Al-Zhahir (1021-1035)
8.    `Al-Mustanshir (1035-1094)
9.    Al-Musta’li (1094-1101)        (Muhammad)
10.    Al Amir (1010-1130)         11. Al-Hafizh (1130-1149)
    (Yusuf)     12. Al-Zhafir (1149-1154)

    14. Al-Adhid (1160-1171)     13. Al-Fa’iz (1154-1160)

2.    Belakang Berdirinya Dinasti Fathimiyah
Dinasti Fathimiyah beraliran syiah Ismailiyah6 dan didirikan oleh Sa’id bin Husain al Salamiyah yang bergelar Ubaidillah al Mahdi. Ubaidillah al Mahdi berpindah dari Suria ke Afrika Utara karena Propoganda Syiah di daerah ini mendapat sambutan baik, terutama dari suku  Barber Ketama. Dengan dukungan suku ini, Ubaidillah al Mahdi menumbangkan gurbernur Aglabiyah di Afrika, Rustamiyah Kharaji di Tahart, dan Idrisiyah Fez dijadikan sebagai bawahan.7
Pada awalnya, Syiah  Ismailiyah tidak menampakkan gerakannya secara jelas, baru padamasa Abdullah bin Maimun yang mentranformasikan ini sebagai sebuah gerakan politik keagamaan, dengan tujuan menegakkan kekuasaan Fathimiyah. Secara rahasia  ia mengirimkan misionaris ke segala penjuru wilayah muslim untuk menyebarkan ajaran Syiah Islamiyah.  Kegiatan ini yang pada akhirnya menjadi latar belakang berdirinya dinasti Fathimiyah di Afrika.8
Pasca kematian Abdullah ibn Maymun, tampuk pimipinan dijabat oleh Abu Abdullah al-Husain. Ia menyeberang ke Afrika Utara, dan berkat propagandanya ia berhasil menarik simpati suku Khitaniah dari kalangan Berber menjadi pengikut setia gerakan ahli bait ini.9 Setelah berhasil di Afrika utara, Abu Abdullah al-Husain mengangkat Sa'id Ibn Husayn al-Salamiyah untuk menggantikannya sebagai pimpinan tertinggi gerakan Isma'iliyyah.10
Sa-'id ibn Husain al-Salamiyah yang menggantikan Abu Abdullah al-Husain berhasil mernimpin gerakan untuk menduduki Tunis, pusat pemerintahan dinasti Aghlabi, pada tahun 909 M., dan sekaligus mengusir penguasa Aghlabi yang terakhir, yakni Ziyadatullah Sa'id. Kemudian ia memproklamasikan dirinya sebagai mam dengan    'U"baidillah al – Mahdi. Dengan demikian  terbentuklah  pemerintahan Dinasti Fathimiyah di Afrika Utara dengan al-Mahdi. sebagai khalifah pertamanya.11




C.    Dinamika Politik
1.    Khalifah-khalifah Dinasti Fathimiyah
1.1. Al-Mandi (297-322 H/909-934 M)
Ubaidillah merupakan  khalifah pertama Dinasti Fathimiyah. Ia memerintahkan selama lebih kurang 25 tahun (904-934 M). Dalam masa pemerintahannya, al-Mahdi  melakukan perluasan wilayah ke seluruh Afrika, yang terbentang  dari perbatasan Mesir sampai dengan wilayah Fes di Maroko. Pada tahun 914 ia menduduki Alexandria dan kota-kota lainnya seperti Malta, Syria, Sardania, Corsica. Pada tahun 920 M, Kahalifah al-Mahdi mendirikan kota baru dipantai Tunisia dan menjadikannya sebagai ibukota pemerintahan.  Kota ini dinamakan kota Mahdiniyah.12 Di Afrika Utara kekuasaan Ubaidillah segera menjadi besar. Pada tahun 909 mereka dapat menguasai dinasti Rustamiyah dan Tahert setta menyerang bani Idris di Maroko.13

1.2. Al-Qa'im (322-134 H/934-945 M)
Al-Qa'im adalah prajurit pemberani, hampir setiap ekspedisi militer dipimpinnya secara. langsung. Ia merupakan khalifah pertama Fathimiyah Pertama yang menguasai lautan tengah. la juga berhasil menduduki Genoa dan wilayah sepanjang pantai Calabria.14 Di masa pemerintahannya, al-Qa'im juga mendapat perlawanan dari kalangan khawarij yang melancarkan pemberontakan dibawah pimpinan Abu yazid Makad.15

1.3. Al-Manshur (334-341 H/945-952 M)
    Al-Marishur adalah pemuda yang sangat lincah. Ia berhasil menghancurkan kekuatan Abu Yazid. Meskipun  putar Abu Yazid senantiasa menumbulkan keributan, namun seluruh wilayah Afrika pada masa ini tunduk kepada al Mansur.16

1.4. Al-Mu'izz (341-365 H/952-975 M)
Daulah Fathimiyah memasuki era kejayaan pada masa pemerintahan Abu Tamin Ma'ad yang bergelar al-Mu'iz. Al-Mu'iz dengan panglimanya Jauhar Al-Katib as-Siqi'lli dapat menguasai Mesir pada tahun 969. la mendirikan kota baru yang disebut al-Qohirah (Cairo) yang berarti kota kemenangan dan menjadikannya Ibukota Khalifah fathimiyah pada masa-masa selaujutnya.17 Pada masa ini rakyat merasakan kehidupan yang makmur dan sejahtera dengan kebijakan-kebijakan untuk mensejahterakan rakyatnya.18
Mu'izz bukan saja seorang yang berpendidikan tinggi tetapi pandai di bidang syair dan kesusastraan arab, ia juga fasih berpidato. la penguasa yang bijak, enerjik, ramah, dan ilmuan yang menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat.19
1.5. Al-Aziz (.365-,386 H/975-996 M)
Al-Aziz adalah khalifah yang paling bijaksana dan pemurah. luas kekuasaan imperiumnya membentang dari dari wilayah Euprat sampai dengan Aflantik. Pada masanya tercipta kedamaian dan kesejahteraan seluruh warga, baik muslim maupun nonmuslim.20.- Fada masa al-Azziz, Istananya bisa menammpung 30.000 tamu, masjidnya sangat megah, perhubungan sangat lancar dan keamanan terjamin.21

1.6. Al-Hakim (386-411 H/996-1020 M)
Ketika naik tahta ia baru berusia sebelas tahun. Selama tahun-tahun pertama ia berada di bawah pengaruh seorang gubernurnya yang bernama Barjawan. Barjawan menjadi  pelaku utama pemerintahan al-Hakim. Di kemudian hari Al- Hakim menghukum Barjawan lantaran penyalahguman kekuasaan negara. Ia sangat kejam, ia menghukum bunuh pejabat-pejabat yang cakap tanpa alasan yang jelas. Dalam sepuluh tahun, umat Yahudi dan Nasrani merasa kehilangan hak-haknya sebagai warga Negara sehingga timbul perlawanan mereka.22

1.7. Al-Zhallir (411-427 H/1020-1035)
Ia naik tahta pada usia enam belas tahun, sehingga pusat kekuasaan dipegang oleh bibinya yang bernarna Sitt all-Mulk. Sepeninggal sang bibi, ia menjadi raja boneka di tangan menteri-menterinya. Pada masa pemerintahan ini raknyat menderita kekurangan bahan makanan dan harga barang tidak terjangkau. Hal ini disebabkan terjadinya musibah banjir terus-menerus.23

1.8. Al-Mustanshir (427-487 H/1035-1094
Masa awal pemerintahannya berada sepenuhnya di tangan ibunya, lantaran ketika dinobatkan sebagai khalifah ia baru berusia tujuh tahun. Pada masa ini Mesir dilanda permusuhan antara militer Negro dengan militer Turki. Permusuhan ini semakin kritis sehingga berkorbarlah peperangan 24
1.9. AI-Mustali (487-495 H/1094-1101 M)
1.io. Al-Amir (05-524 H/1101-1130 M)
1.11. Al-Hafidz (524-544 H/1130-1149 M)
1.12. A!-Zhafir (544-549 H/ 1149-1154
1.13. Al-Fa'iz (549-555 H/1154-1160 M)
1.14. Al=`Adhid. (555-5167 H/1160-1171 M)

2.    Struktur Kepemerintahan Dinasti Fathimiyah
Dalam bidang administrasi pemerintalhan tidak banyak berubah. System administrasi yang dikembangkan khalifah Abbasiyah masih terus saja dipraktekkan. Khalifah menjahat sebagai Kepala Negara baik dalam urusan keduniaan maupun dalam urusan spritual. Ia berwenang mengangkat sekaligus menghentikan jabatan-jabatan di dibawahnya. Selain itu sakralisasi khalifah yang muncul di masa pemrintahan Abbasiyah masih tetap dipertahankan yang indikatornya dapat dilihat dari gelar yang disandang para khalifah Fathimiyah seperti al-Mu’iz dinillah, al-Aziz  billah, al-Hakim bin Amrullah dan sebagainya.
Pengelolaan negara yang dilakukan. Dinasti Fathimiyah ialah dengan mengangkat  para menteri. Dinasti  Fathimiyah membagi kementrian menjadi dua kelompok. Pertama kelompok militer yang terdiri dari tiga jabatan pokok
•    Pejabat militer dan pengawal khalifah
•    Petugas keamanan
•    Resimen-resimen
Yang kedua adalal-I kellornpok sipil yang terdiri atas
•    Qadhi (Hakim dan direktur percetakan uang)
•    Ketua Dakwah yang men-iiinpin pengajian
•    Inspektur pasar (pengawal pasar, jalan, timbangan dan takaran)
•    Bendaharawan negara (menangani Bait Maal
•    Kepala urusan rumah tangga raja
•    Petugas pumbaca Al Qur'an, dan
•    Sekretaris berbagai Departemen
Selain  pejabat pasar, disetiap daerah terdapat pejabat setingkat gubernur yang diangkat oleh khalifah untuk mengelola daerahnya masing-masing. Administrasi dikelola oleh pejabat setempat.25

3.    Wilayah Kekuasaan Dinasti Fathimiyah.
Kekuasaan dinasti Fathimiyah terbentang dari laut  atlantik hingga Syam yang berdempetan dengan Irak sampai ke Jazirah Arab yang memiliki tanah yang sangat luas.26 (peta terlailipir) Watak politik syiah adalah  revolusioner karena watak politiknya inilah tampaknya ia ingin menghancurkan kekuasaan apa saja yang bukan syiah termasuk dinasti Abbasiyah di Baghdad. Hal ini berbeda dengan penguasa-penguasa lain yang masih mengaku khilafah abbasiyah, sekalipun penguasa tersebut pada akhirnya bersifat otonom.27  Timbulnya fathimiyah juga menimbulkan wilayah kekuasaan Baghdad menjadi mengecil karena beberapa wilayah kekuasaan abbasiyah direbut oleh fathimiyah.28

D.    Dinamika Sosial dan Agama
Pada periode Fathimiyah, kebudayaan yang mendominasi adalah kebudayaan Persia. Tetapi elemen  yang paling penting dalam populasi Mesir sepanjang abad pertengahan dan masa modern adalah orang-orang koptik yang telah terarabkan. Populasi utama ini bertahan di bawah kekuasaan rezim ultra Syiah.29
Ketika Al Muiz berhasil. menguasai Mesir, di kawasan ini berkembang empat Madzhahb Fikih : Maliki, Hanafi, Syafi’il, Hambali, sedangkan Al Muiz sendiri menganut madzhab Syiah.  Dalam menyikapi hal ini Al Muiz mengangkat hakim dari kalangan Sunni dan Syiah. Akan tetapi jabatan-jabatan penting diserahkan kepada ulama Syiah sedangkan Sunni hanya menduduki jabatan rendahan. Pada tahun 973 M, semua jabatan di berbagai  bidang politik, agama dan militer dipegang oleh Syiah. Oleh karena itu sebagian pejabat Fathimiyah yang  Sunni beralih  ke Syiah supaya jabatannya meningkat. Disisi lain al Muiz membangun toleransi agama sehingga pemeluk agama lain seperti Kristen diperlakukan dengan baik dan diantara mereka diangkat menjadi pejabat istana.30
Dari  mesir Dinasti Fathimiyah tumbuh semakin luas sampai ke Palestina, dan kemudian propaganda Syiah Ismalliyah semakin tersebar luas melalui sebuah gerakan agen rahasia.31 Pada masa pemerintahan Fathimiyah, persoalan agama dan negara tidak dapat dipisahkan. Agama dipandang sebagai pilar utama dalam menegakkan daulah/negara. Untuk itu, pemerintah Fathimiyah sangat memperhatikan masalah keberagaman maskipun mereka berstatus sebagai warga negara kelas dua seperti orang Yahudi, Nasrani, Turki, Sudan.32
Menurut K. Ali , mayoritas khalifah Fathimiyah bersikap moderat, bahkan penuh perhatian terhadap urusan agama non muslim sehingga orang-orang Kristen Kopti Armenia tidak pernah merasakan kemurahan dan keramahan selain dari pemerintahan Muslim. Banyak orang Kristen, seperti al-Barmaki, yang diangkat jadi pejabat pemerintah dan rumah ibadat mereka dipugar oleh pemerintah.
Akan tetapi, Kemurahan hati yang ditampilkan Khalifah Fathimiyah terhadap orang Kristen tidak urung menimbulkan isu negatif. Al-Mu'iz yang dikenal dengan kewarakan dan ketaqwaannya diisukan telah murtad, mati sebagai orang Kristen dan dikubur di gereja Abu Siffin di Mesir kuno. Namun, menurut Hasan, isu tersebut tidak benar sebab tidak ada sejarawan yang menyebutkan seperti itu, dari hanya cerita karangan (Khurafat) yang sengaja dienduskan oleh orang-orang yang tidak senang kepadanya termasuk dari sisa-sisa penguasa Abbasivah yang sengaja ingin melemahkan kekuatan Fathirniyah.33
Sementara itu, agama yang didakwahkan Fathimiyah adalah ajaran Islam, menurut pemahaman Syi’ah Islamiyah yang ditetapkan sebagai mazhab negara. Untuk itu, para dai daulah Fathimiyah sangat gencar mengembangkan ajaran tersebut darn berhasil meraih pengikut yang banyak sehingga masa kekuasaan daulah Fathimiyah dipandang sebagai era kebangkitan dan kemajuan mazhab Islamiyah.34
Meskipun para Khalifah berjiwa moderat, akan tetapi terhadap orang yang tidak mau mengakui ajaran Syi’ah Islamiyah langsung dihukum bunuh. Pada tahun 391H khalifah al-Hakim membunuh seorang laki-laki yang tidak mau mengakui keutamaan/fadhilah Ali bin Ab I Thalib.35
jelasnya peranan agama sangat dIP-e-r-h-a-t"Kan s-eka-111 Ole'n penguasa untuk tujuan mempertahankan kekuasaan. Buktinya sikap tegas khalifah Fathimiyah terhadap orang yang tidak mau mengakui mazhab Ismalliyah dapat berupa apabila sikap seperti dapat beraktbat munculnya intabilites Negara. Al-Hakim misalnya agar terjalin hubungan yang baik dengan rakyatnya yang berpaham sunni, al-Hakim mulai bersikap lunak dengan menetapkan larangan mencela Sahabat khususnya khalifah Abu Bakar dan Umar. Al-Hakim juga membangun sebuah madrasah yang khusus niengajarkan paham sunni, memberikan bantuan buku ¬buku bermutu sehingga warga Syi’ah ketika itu merasa senang sebab merasakan hidup dikawasan sunni.
Sikap yang diambil para. khalifah Fathimiyah tidak sekejam yang dilakukan Abdullah al-Saffah yang berusaha rnengikis habis siapa-siapa pengikut Bani Ummayyah di awal masa kekuasaannya. Dalam hal ini para khalifah Fathimiyah memberlakukan masyarakat secara sama selama mereka bersedia niengikuti, ajaran Syi’ah Ismalliyah yang merupakan madzhab negara.
Ketidak senangan khalifah Fathimiyah kepada Abbasiyah tidak ditunjukkan dalam bentuk kekerasan. Hanya saja, Khalifah Fathimiyah melarang menyebut bani mengharamkan penyebut bani Abbasiyah dalam setiap khutbah jubah hitarn serta atribut bani Abbasiyah lainnya. Pakaian yang dipakai untuk khutbah adalah berwarna putih.36
Meskipun al-Muiz menuntaskan pemberontakan, akan tetapi ia akan selalu
menempuh jalan damai terhadap para Gubernur dengan, menjanjikan penghargaan kepada siapa saja yang bersedia menunjukkan loyalitasnya. Banyak diantara para Gubernur yang bersedia mengikulti mazhab Ismai’iliyah, padahal mereka sebelumnya adalah Gubernur yang diangkat khalifah Abbasiyah. Sikap mereka ini juga dilakukan oleh penganut, Yahudi dan Nasrani. Mereka bersedia masuk Islam dan menganut mazhab     Ismailiyah ketika mereka ditawarkan memegang jabatan tertentu didalarn pemerintahan.37

E.    Dinamika Ekonorni
Khalifah-khalifah dinasti Fathimiyah sangat memperhatikan bidang pertanian karena mereka sadar bahwa sektor pertanian adalah sumber kekayaan negara Mesir. Hasil- hasil pertanian negara Mesir adalah gandum, anggur; dan kurma yang ditanam ditepi sungai nil. Sektor industri juga berkembang di Mesir diantaranya  ada pabrik tekstil yang memproduksi pakaian.38 Pada masa pemerintahan al-Mu'iz (953-997) berkembang berbagai jenis perusahaan dan kerajinan seperti  tenunan, keramik, perhiasan emas, dan perak, peralatan kaca, ramuan, obat-obatan. 39(contoh keramik terlampir)
Kota Mesir merupakan pusat perdagangan dinasti Fathimiyah karena letak geografisnya yang dekat dengan sungai Nil sehingga memudahkan transportasi pedagang melalui jalur sungai. Pada masa dinasti Fathimiyah aktivitas perdagangan sudah go internasional ke Asia dan Eropa. Dan mata uang yang diigunakan adalah dirham yang terbuat dari emas dan perak.40
F.    Keadaan Intelektual
Dinasti Fathimiyah memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Fathimiyah membangun masjid Al Azhar (gambar terlampir) yang akhirnya di dalamnya terdapat kegiatan-kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan Sehingga berdirilah  Universitas Al Azhar yang nantinya menjadi salah satu perguruan Islam tertua yang dibanggakan oleh ulama Sunni.41
Fathimiyah juga banyak membangun perpustakaan-perpustakaan yang besar d    an megah. Sebuah perpustakaan Dinasti Fathimiyah di Mesir, menurut al-Maqrizi, memiliki 40 ruangan yang masing-masing memuat 18.000 buah buku.42
Al Hakim berhasil mendirikan Daar a1- Hikmah, perguruan Islam yang sejajar dengan lembaga pendidikan Kordova dan Baghdad. Beberapa ulama yang muncul pada saat itu adalah sebagai berikut:
1.    Abu al-Hasan -Ali bin Ridwan (Ahli Fisika dan Kedokteran"
2.    Abu Qashim Ali bin Munjib, (ahli Ilmu Administrasi)
3.    Al nu’man. (ahhi hokum dan menjabat sebagai hakim)
4.    Ali bin Yunus (ahli Asronomi)
5.    Ali Al. Hasan bill al Khaitami. (ahli F' sika dan Optik)43
Disamping itu kemajuan bangunan fisik sungguh luar biasa. Indikasi-indikkasi kemajuan tersebut dapat diketahui dari banyaknya bangunan-bangunan yang dibangun berupa masjid-masjid, universitas, rumah sakit dan penginapan megah, Jalan-jalan utama dibangun dan dilengkapi dengan lampu warna-warni dalam bidang industri telah dicapai kemajuan besar khususnya yang berkaitan dengan militer seperti alat-alat perang, kapal dan sebagainya.44

G.    Kemunduran dan kehancuran Dinasti Fathimiyyah
Gejala-gejala yang menunjukkan kemunduran dinasti Fathimiyah telah terlihat. Di penghujung masa pemerintahan Al-Aziz namun baru kelihatan wujudnya pada masa pemerintahan al"Muntasir yang terus berlanjut hingga berakhirnya kekuasaan adalah Fathimiyah pada masa pemerintahan al-Adid  567 H/1171 M.
Adapun faktor yang menyebabkan kemunduran dan runtuhnya Dinasti Fathimyah dapat dikalisikasikan kepada faktor internal dan eksternal:
1.    Faktor Internal
Faktor intenal yang paling signifikan dalam menghantarkan kemunduran Dinasti Fathimiyah adalah dikarenakan lemahnya kekuasaan pemerintah. Menurut  Ibrahim Hasan, para khalifah. Tidak lagi memiliki semangat juang yang tinggi seperti yang ditunjukkan para pendahulu mereka ketika mengalahkan tentara Berber di Qairawan.  Kehidupan para khalifah yang bermewah-mewah rnerupakan penyebab utama hilangnya semangat untuk melakukan ekspansi.45
Selain itu, para khalifah kurang cakap dan memerintahkan roda Pemerintahan tidak berjalan secara efektif, ketidakefektifan ini dikarenakan khalifah yang diangkat banyak yang masih berusia relatif muda sehingga kurang cakap dalam mengambil kebijakan . Tragisanya mereka ibarat boneka ditangan para wazir karena peranan wazir begitu dominan dalam mengatur pemerintahan.
Fenomena ini muncul pasca wafatnya al-Azis, setelah al-Aziz wafat la digantikan puteranya bernama Abu Mansur al-Hakim yang pada saat pengangkatan masih berusia 11 tahun. Kebijakan dalam pemerintahannnya sangat tergantung kepada keputusan Gubernur bernama Barjawan yang meskipun pada akhirnya dihukum al-Hakim karena penyalahgunaan kekuasaan. 46
Bukti lain ketidak cakapan khalifah adalah munculnya perlawanan orang Kristen terhadap penguasa. Perlawanan ini muncul dikarenakan orang Kristen tidak senang dengan maklumat al-Hakim yang dianggap menghilangkan hak-hak mereka sebagai warga negara. Maklumat tersebut berisikan tiga Aternatif pilihan yang berat bagi orang Kristen. Masuk Islam, atau meninggalkan tanah air, atau berkalung salib sebagai simbol kehancuran.47
Setelah al-Hakim wafat, ia digantikan puteranya bernama Abu Hasyim Ali yang bergelar al-Zalwir. Pada saat pengangkatannya al-Zahir masih berusia 16 tahun dan kebijakan pemerintahan berada ditangan bibinya bernama Siti al-Mulk, sepeninggalan bibinya al-zahir menjadi raja boneka ditangan para wazirnya.
Pengangkatan khalifah dalam usia relatif muda masih terus berlanjut hingga masa akhir pemerintahan daulah Fathimiyah, bahkanl khalifah ke tiga belas yang bernama al-Faiz dinobatkan pada saat masih balita namun keburu meninggal dunia sebelum berusia dewasa. Sementara khalifah terakhir bernam Al-Adid dinobatkan disaat berusia sembilan tahun.
Faktor lainnya diperparah oleh peristiwa alam. Wabah  penyakit  dan kemarau panjang sehingga sungai Nil kering, menjadi sebab perang saudara. Setelah meninggal Abu Tamim Ma'ad al Muntashir diganti oleh anaknya al Musta'I Akan tetapi (anak Abu Tammim Ma’ad yang tertua) melarikan diri ke Iskandariyah dan menyatakan diri sebagai khalifah. Oleh sebab ini Fathimiyah terpecah rnenjadi dua.48
Selain itu, faktor internal lainnya sebagai penyebab kehancuran daulah Fathimiyah adalah persaingan dalam memperoleh Pada masa al-Adid sebagai khalifah terakhir misalnya, terjadi persaingan antara Abu Sujak Syawar dan Dargani untuk memperebutkan jabatan wazir yang akhirnya dimenangkan Dargam. Karena sakit hati, Syawar meminta bantuan Nur Al-Din al¬Zanki untuk mernulihkan kawasannya di Mesir, jlka berhasil la berjanji untuk menyerahkan sepertiga hasil penerimaan negara kepadanya. Tawaran ini diterima Nul-Din. la mengutus pasukan dibawah pimpinan keponakannya. Salah al-Din al-Ayyubi. Pasukan ini mampu mengalahkan Dargam setelah Syawar kembali mengangku jabatan wazir dan memenuhi janjinya kepada Nur al-Din.
Perebutan kekuasaan ditingkat wazir ini merupakan awal munculnya kekuasaan asing yang pada akhirnya mampu merebut kekuasaan dari tangan Dinasti Fathimiyah dan membentuk dinasti baru bernama Ayyubiyah.

2.    Faktor Eksternal
Adapun faktor eksternal yang menjadi penyebab runtuhnya Dinasti Fathimiyah adalah menguatnya kekuasaan Nur al-Din al-Zanki di Mesir. Nur al-Zan M adalah Gubernur  Syiria yang yang masih berada dibawah kekuasaan Bani Abbasiyah. Popularitas al-Zanki menonjol pada saat ia mampu mengalahkan pasukan salib atas permohonan khalifah al-Zaffir yang mampu mengalahkan tentara salib.
Dikarenakan rasa cernburulnya kepada Syirkuh yang memiliki  pengaruh kuat di istana dianggap sebagai saingan yang akan merebut kekuasaannya sebagai wazir, Syawar melakukan perlawanan. Agar mampu menguatkan kekuasannya Syawar meminta bantuan tentara Salabiyah dan menawarkan janji seperti Yang dilakukannya terhadap Nural-Din.49
Tawaran ini diterima King Almeric selaku panglima perang salib dan melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk dapat menaklukkan Mesir. Pertempuran pun pecah di Pelusium dan pasukan Syirkuh dapat mengalahkan pasukan salib. Syawar sendiri dapat ditangkap dan dihukum bunuh dengan memenggal kepalanya atas perintah Khalifah  Fathimiyah.50
Dengan kemenangan ini, maka Syirkuh dinobatkan menjadi wazir dan pada tahun 565 H / 1117M. setelah Syirkuh wafat, jabatan wajir diserahkan kepada Salah al-Din Ayyubi. Selanjutnya Salah al-Din mengambil kekuasaan sebagai khalifah setelah al-Adid wafat. Dengan berkuasanya Salah al-Din, maka diumumkan bahwa kekuasaan Dinasti Fathimiyah berakhir. Dan membentuk dinasti Ayyubiyah serta merubah orientasinya dari paham syi’ah ke sunnisi.51
Khalifah Fathimiyah berakhir pada tahun 567 H/1117 M. Untuk mengantipasi perlawanan dari kalangan Fathimiyah, Salah al-Din membangun benteng bukit di Muqattam dan dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan militer. Yang kini bangunan benteng tersebut masih berdiri kokoh di kawasan pusat Mishral qadim (Mesir lama) yang terletak tidak jauh dari Universitas dan juga dekat dengan perumahan Mabosiswa Asia di Qatamiyah

Penutup
Daulah  Fathimiyah merupakan salah satu imperium besar  sepanjang sejarah Islam. Pada awalnya, daulah ini hanya berupa dinasti kecil yang melepaskan. diri dari kekuasaan daulah Abbasiyah. Mereka mampu memerintah lebih dua abad sebelum ditaklukkan oleh dinasti Ayyubiyah dibawah kepemimpinan Salah al-Din al-Ayyubi.
Dalam masa pemerintahannya, daulah Fathimiyah sangat konsern dengan pengembangan paham Syi'ah Ismayliyah. Untuk kesuksesannya, mereka mewajibkan seluruh aparat di jajaran pemerintahan dan warga masyarakat untuk  menganut paham tersebut. Upaya ini cukup  berhasil yang ditandai  dengan banyak masyarakat yang bersedia menerimanya meskipun berasal dari non muslim
Kemunduran  daulah Fathimiyah dikarenakan tidak efektifnya kekuasaan pemerintahan dikarenakan para khalifah hanya sebagai raja boneka sebab roda pemerintah didominasi oleh kebijakan para wazir sementara khalifah hanya hidup menikmati kekuasaannya didalam istaina yang megah.

DAFTAR PUSTAKA

Asari, Hasan. Menyingkap  Zaman Keemasan Islam. Bandung: Citapustaka Media, 2007.

Ali, K. Sejarah Islam, Cet. 4. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003

Al-Isy, Yusuf, Tarikh Ashr Al-Khilafah Al-Abbasiyah, Terj Arif Munandar. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2007

Dewan Redaksi, Ensiklopedia Islam. jilid II. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994.

Ghasse Cyriil, Ensoklopedia Islam.  Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996

Hasan, Ali Ibrahim, Usur al Wustha : Minal Fathil Arabiy ilaaftithil Ustmaniy. Kairo: Maktabah al Nahdah al-Mishriyah, 1976.

Hassan, Hasan. Ibrahim, Tarikh daulah Fathimiyah fil Maghrib Mish, Suriah wa biladil arab. Kairo: Maktabah Lajnah at Ta’lif wa al tarjamah wan Nasyr, 1958

Mubarah, Jaih. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Bani Qurays, 2004.

Nasution, Harun. Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Jilid I. Jakarta : UI Press , 1985

Oesman, Latief  Ringkasan Sejarah Islam. Jakarta: Widjaya, 4979.

Saefuddin, Didin. Zaman Keemasan islam. Jakarta: PT.Gramedia widiasarana Indonesia, 2003.

Soui'b, Jousep. Sejarah Daulat Abbasiah. Jakarta: Bulan Bintang, 1977.

Surur, Muhammad  Jamaluddin. Ad-Daulah al Fathimiyah fil Mishr, Kairo : Darul Fikr al Arabiy, 1979

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik (Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam). Jakarta: Kencana. 2003.

Hitty, Philip K. History of the Arabs. Terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta:PT Serambi Ilmu Semesta.2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar