Selasa, 23 Februari 2016

BERTRAND RUSSELL: Understanding History



A.   PENDAHULUAN


          Bertrand Russell adalah seorang tokoh yang sangat produktip dalam menulis buku. Ia membahas tentang berbagai-macam permasalahan, mulai dari filsafat, pendidikan, masalah moral, agama, sejarah dan politik bahkan ia juga ahli dalam bidang matematika dan sains.
          Buku Understanding History yang akan dikaji penulis, memiliki tesk aslinya  sampai dengan halaman 122, akan tetapi banyak uraian-uraian materi lain didalamnya  dan secara kebetulan salah satu judul tersebut berkaitan dengan materi Penulis, Understanding History yang diambil dari  salah satu essey  yang ada, yaitu: Cara Membaca dan Memahami Sejarah. Yang terdiri dari 58 halaman.
          Sebenarnya essey: Cara Membaca dan Memahami Sejarah yang aslinya ini, ditulis pada tahun 1943. Kemudian dicopi  dan dicetak ulang kembali  oleh Philosophical Library.
          Buku ini merupakan kumpulan dari beberapa essay  karya Betrand Russell, dari judul inilah  salah satu judul pendekatan  yang dilakukan Pemakalah dalam penulisan makalah, yaitu: How to Read and Understand History (Cara Membaca dan Memahami Sejarah). Sehingga tidak semua essey yang terdapat dalam judul diatas akan disampaikan oleh Penulis.

          “My subject is  history as a pleasure, as an agreeable and profitable way  of spending such leisure as an exacting word may permit. I am not a professional historian, but I have read much history as an amateur”.[1]

          Dalam essay ini Russell  langsung mengatakan kepada kita bahwa ia hanya melihat sejarah “sebagai suatu kesenangan”, sebagai  cara yang menyenangkan untuk melewatkan waktu luang seseorang dan pendekatan ini  telah banyak ia dapatkan dengan banyak membaca sejarah sebagai suatu “amatir”.
           Selain essey: Cara Membaca dan Memahami Sejarah, Penulis juga mengambil  buku pendukung lainnya : Sejarah Filsafat Barat yang judul aslinya adalah: A History of Western Philosophy yang diterbitkan pada tahun 1946.
           Apa dan bagaimana selanjutnya pendapat Bertrand Russell dalam memahami sejarah barangkali akan lebih jelas pada pembahasan-pembahasan selanjutnya.  Namun ada baiknya terlebih dahulu kita mengenal tentang  riwayat hidup Bertrand Russell                     
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       
 B.    RIWAYAT HIDUP BERTRAND RUSSELL


a.   Sejarah Hidupnya      
   
           Bertrand Russell  (1872-1970) dilahirkan dalam suatu keluarga bangsawan yang terkemuka, Lord  John Russell, yang pernah menjadi perdana menteri Inggris.[2] Pada usia umur 2 dan 4 tahun berturut-turut ia kehilangan ibu dan ayahnya. Dia dibesarkan dirumah orang tua ayahnya.[3] Bertrand sendiri mewarisi gelar Earl yang cukup terpandang dalam keluarga bangsawan Inggris, tetapi jarang dipakainya. Pada masa mudanya ia menunjukkan kepintaran yang luar biasa dalam matematika. Keterlibatannya yang bersifat sementara dengan Hegelianisme tentu telah bertentangan dengan  instik dan kemampuan dasarnya ini. Filsafat       Mc Taggart dan Bradley tidak ada gunanya bagi ketetapan dan keakuratan matematika dan sains yang telah menjadi bagian dari keahlian dan kepribadiannya.[4]
          Simon dan Schuster menyatakan, nama lebih lengkap Bertrand Russel adalah Bertrand Athur William Russell, ia pernah dipenjara selama  4 bulan pada saat terjadinya perang dunia I. Di sini ia  menulis karyanya dalam bidang Matematika bersama Alfred Whitehead. Ia juga mendirikan suatu sekolah untuk anak-anak bersama istrinya dari tahun 1927-1932. Ia juga pernah meraih Nobel Sastra tahun 1950 dan  juga aktip menyampaikan kecaman dan  anti test nuklir. [5]
          Bertrand Russell adalah seorang  pribadi  yang sangat cemerlang di dunia filsafat kontemporer. Tidak ada sesuatu yang asing bagi dia, dia telah memberi sumbangan pada semua bidang dengan berbagai tiorinya yang terang dan kaya. Sumbangan yang terpenting telah diberikan dalam disiplin yang sangat teknis, terutama dalam logika matematika dan sumbangannya bagi logika simbolis, namun lama sebelum ia melakukan hal itu, dengan semangat masa muda, mengkaji bagian utama persoalan filsafati dan sosial jamannya. Sikapnya yang anti perang (pasifisme) mengantarkan ke dalam penjara selama Perang Dunia Pertama, dan tulisan mengenai perceraian, masalah seksual, hubungan internasional dan berbagai topik politik dan sosial abad ini yang menjengkelkan lainnya, membuat dia harus menghadapi kesulitan dan kontroversi yang senantiasa dia hadapi dengan ironi yang halus. Dia adalah  filosof yang paling produktif, dan gayanya yang jelas dan tangkas membuatnya sangat populer.[6]
          Kita sudah mendengar bahwa George Moore termasuk sahabatnya. Selama hidupnya yang amat panjang, ia menulis banyak sekali  (71 buku dan brosur) tentang berbagai-bagai pokok, antara lain filsafat, masalah-masalah moral pendidikan, sejarah, agama, dan politik. Pada tahun 1950 ia memperoleh Nobel bagian sastra. Namanya menjadi mashur di seluruh dunia terutama karena pendapat-pendapatnya yang nonkonformistis tentang moral dan politik. Dari sudut ilmiah jasanya terbesar terdapat di bidang logika matematis. Antara tahun 1911 dan 1915 Russell mengajar di Cambridge. Pada tahun 1916 ia diberhentikan sebagai dosen sesudah ia dihukum dalam suatu perkara pengadilan karena ia menolak wajib militer. Kemudian sampai ia dipenjarakan sampai beberapa bulan, karena mempropagandakan pasifisme (1918). Tetapi fasifisme ini tidak dianutnya tanpa syarat, waktu perang dunia kedua ia berpendapat bahwa kejahatan-kejahatan nasional-sosialisme merupakan alasan cukup kuat untuk mengadakan perlawanan bersenjata. Sesudah keluar dari Universitas Cambridge ia tidak lagi menunaikan jabatan tetap di Universitas. Tetapi sebagai dosen tamu, acapkali ia memberi kuliah atau ceramah khususnya di Amerika Serikat. Gagasan-gagasannya di bidang pendidikan  dicoba diwujudkan oleh Russell dan istrinya Dora dalam sebuah sekolah yang disusun menurut prinsif-prinsif progresif. Dalam tahun 50-an ia memimpin aksi-aksi melawan persenjataan nuklir. Ia menulis beberapa buku tentang permasalahan itu.[7]

b.  Karya-Karya Bertrand Russell.

           Banyak karya yang telah dihasilkannya, antara lain karyanya yang paling  sukses adalah  A History of Western Pholosophy {Sejarah Filsafat Barat), terdiri dari 1110 halaman.
          Beberapa judul bukunya: German Social (1896), Folowed by An Essey on the Faundations of Geometry (1897)[8], (dua buku ini merupakan buku pertama yang dipublikasikannya), Democracy Philosophical Esseyas (1910), The ABC of Relativity (1925), A History of Western Phjlosophy (1946), Human Knowledge: Its Scope and Limits (1948), dan The Autobiography  of Bertrand Russel (1967).[9] Adapun karya yang lain, A Critikal Exposition in the Philosophy of Leibnitz (1900), Principia Mathematica (three vols,1910-13), Our Knowlegdge of the External World as a field for Scientific Method in Fhilosophy (1914), The Practice and Theory of Bolshevism (1920), Why I am not a Cristian (1927), Fower: A New Social Analysis (1938), Unpopular Essays (1950), Human Society in Ethics and Politics (1954), the Wisdom of the West (1959)  Ada karya Russel  yang lain tentang sejarah pendek, Satan in the Suburbs (1953), dan Nightmares of Eminent Person (1954).[10]
          Selain judul-judul buku di atas masih banyak terdapat essey dan judul karangan-karangan yang lain, diantaranya yang akan dibahas Pemakalah, yaitu: Bertand Russell: Understanding History, (New york: Philosoppycal Library, 1957). 
          Adapun daftar isi dari buku ini adalah sebagai berikut:
Table of content  (Daftar isi)





9


57


105


106


106


107

108

 109

 110

 111

 112

 113

 114

 116

 118

 118


 120

 121

          Pada akhir hidupnya ia menerbitkan sebuah buku tentang kejahatan-kejahatan perang yang menurut ia dilakukan oleh tentara Amerika di Vietnam. Dan ia mendirikan Pengadilan Internasional untuk mengadili kejahatan-kejahatan perang, yang menuduh Presiden Johnson, terlibat dalam kejahatan tersebut.
5
 Salah satu anggota terkemuka Russell adalah filsuf Prancis Jean-Paul Sartre. Ia juga menulis otobiografinya, Autobiography, London, 3 jilid, 1967, 1968, 1969. Tahun 1970 ia meninggal dunia dalam usia 98 tahun.[11]        

C.      BERTRAND RUSSELL: MEMAHAMI SEJARAH

a.  Sejarah dan Moralitas
           Bertrand Russell  seorang filsafat Inggris, menyatakan bahwa sejarah menunjukkan manusia tidak pernah membuat kemajuan, melainkan hanya kemudahan. Maksudnya, kemajuan-kemajuan teknologi yang dicapai manusia dalam berbagai bidang hanya membuat hidup manusia relatif lebih mudah, namun tidak pernah membuat manusia menjadi lebih maju secara moral. Tidaklah berlebihan pernyataan tersebut, mengingat masa hidupnya mengalami dua perang besar (perang Dunia ke-1 dan ke-2) dan ia sendiri pernah dipenjarakan karena sikap pasivismenya.
          Apa yang disampaikan diatas bahwa manusia tidak pernah membuat kemajuan, melainkan hanya kemudahan barangkali perlu kita cermati kebenarannya sampai saat ini, karena memang benar adanya bahwa penemuan yang merupakan suatu kemajuan muncul karena berawal dari keinginan meringankan beban manusia. Sebagai contoh: dulu sebelum manusia mengenal tulis baca, setiap kejadian hanya disampaikan secara turun menurun secara lisan, tapi itu susah bagi mereka yang tidak memiliki hapalan yang kuat. Maka mulailah manusi berupaya untuk tidak senantiasa mengingat, mulailah berfikir bagaimana  cara mudah untuk itu. Akhirnya ditemukanlah  bentuk tulisan yang bisa disimpan, sampai akhirnya berawal dari kemudahan-kemudahan untuk manusia, sekarang kita telah banyak menemukan teknologi yang dengan mudah dan gampang dengan mengerjakan sesuatu dengan hanya menekan tombol. Akan tetapi meskipun itu merupakan kemudahan menurut Russell moral manusia tidak pernah maju, agamapun  tidak ada artinya bagi Russell. Manusia senantiasa ingin menundukkan manusia lain dengan jalan kekuasaannya sehinggga  Russell tak menyatakan dirinya beriman. Apalagi Russell  melihat terjadinya perang dunia I dan II sebagai suatu  yang bertentangan dengan nilai-nilai kasih sayang.
          Meskipun Russell tak menyatakan dirinya beriman, namun komitmennya terhadap cinta perdamaian, keadilan universal telah membuatnya menjadi orang yang lebih memilih jalan “kasih sayang terhadap manusia, untuk melepaskan diri dari kesia-siaan mencari Tuhan”.  Seseorang sosiologi terkemuka yang banyak menulis tentang agama dan industrialisme, Max Weber, secara tegas menggambarkannya sebagai “laki-laki kalem yang religius”.[12]
           Sebagai seorang sejarawan, Russell berupaya mengaitkan antara agama dan perkembangan peradaban. Jika yang terjadi adalah yang sebaliknya, ia pun tak segan untuk mencerca peran historis agama. Meski menyatakan bahwa agama sedikit memiliki peran membangun peradaban, Russell secara umum menyatakan bahwa agama Barat adalah mata air intoleransi yang tak ada habisnya, sumber eksklusivisme, nasionalisme sempit, keangkuhan moral dan imprealisme budaya yang sulit untuk dicarikan antidotnya. Meski demikian, Russell secara berimbang juga menyebutkan bahwa Protestan memiliki sumbangan yang penting dengan menepikan otoritas. [13]
           Namun, dalam beberapa refleksinya tentang sejarah agama, Russell membuktikan bahwa dirinya bukanlah sosok yang membabi buta dalam membenci praktik historis agama. Russell hanya menolak unsur-unsur agama yang tidak sejalan dengan kemajuan sains, filsafat, peradaban dan kemanusiaan. Sedang agama dalam pengertian normatif, yaitu sebagai inspirasi nilai-nilai kemanusiaan, cinta kasih dan keadilan, Russell tidak pernah menggugat dan menolaknya.
           Sebagai sejarawan, Russell berupaya mengaitkan antara agama dan perkembangan peradaban. Jika ini terjadi adalah sebaliknya, ia pun tak segan untuk mencerca peran historis agama. Meski menyatakan bahwa agama sedikit memiliki peran membangun peradaban, Russell secara umum menyatakan bahwa agama di Barat adalah mata air intoleransi yang tak ada habisnya, sumber eksklusivisme, nasionalisme sempit, keangkuhan moral dan imprealisme budaya yang sulit untuk dicarikan antidotnya. Meski demikian, Russell secara berimbang juga menyebutkan bahwa Protestantisme memiliki sumbangan yang penting dengan menepikan otoritas. Russell juga memuji Yudadisme sebagai agama yang memperkenalkan kedermawanan tanpa pamrih dan cinta persaudaraan. Ia juga menyebutkan intelektual-intelektual Muslim awal sebagai intelektual ensiklopedis yang tertarik sebagian besar bidang ilmu alam dan filsafat. Peradaban Muslim awal Byzantium juga dipujinya sebagai penjaga peradaban dan pengetahuan yang vital.
           Sebagai seorang yang teguh di garis agnotisme, Russell menolak asumsi umum dalam moralitas Kantian, dimana kepercayaan terhadap Tuhan dan hari pembalasan dianggap sebagai pembangkit moralitas dan peradaban yang tertinggi. Agnotisisme Russell menolak segala bentuk otoritas hukum agama. Ia percaya bahwa manusia mestinya memikirkan tingkah laku yang berguna bagi dirinya sendiri. Doktrin tentang dosa juga dianggapnya tak berguna dan berbahaya, sebab konsep tentang dosa membuat manusia secara semena-mena menghukum orang lain yang dianggap berdosa.
b.   Pembagian Sejarah Menurut Russell.
           Russell menyatakan bahwa membaca sejarah sebagai suatu kesenangan, sebagai cara untuk melewatkan waktu luang. Ia sendiri meskipun bukan guru besar sejarawan, tetapi telah banyak membaca buku sejarah seperti  layaknya seorang sejarawan, dengan tujuan bisa  mengambil manfaat dari sejarah itu, meski tidak mesti menjadi seorang ahli sejarah. Tujuan Russell hanya mencoba untuk katakan apa yang ia peroleh dari sejarah.  Maka jika sejarah bukan spesialisasi  atau karir kita  tidak ada alasan untuk berhenti membaca sejarah untuk menemukan banyak manfaat di dalamnya, terkecuali menemukan kenikmatan dan kesenangan yang lain. [14]
           Dalam hal ini terlihat bahwa Russell mempelajari sejarah  tampa beban sehingga tidak harus memperoleh sesuatu dari yang ia pelajari. Nampaknya ia santai-santai saja dengan sejarah. Hal ini  berkaitan dengan spesialisasi keahliannnya dalam bidang matematika dan sains yang nampaknya merupakan sesuatu yang harus ditekuni lebih serius dan yang memiliki jawaban pasti apabila telah mempelajarinya. Namun demikian Russell juga membagi sejarah kepada dua hal.
           Menurut Russell sejarah dibagi  ke dalam dua bagian, sejarah besar dan sejarah kecil [15], yaitu:
  • Sejarah Makro cosmos, berisi pemahaman bagaimana dunia ini dikembangkan.
  • Sejarah Mikro cosmos, berisi pemahaman tentang sifat manusia.
     Kedua sejarah ini menurut Russell harus diajarkan secara bersamaan dari awal. Metode awal yang digunakan harus  sebagian besar dengan gambar hidup ketika menjelaskannya. Jadi untuk tahap awal tidak dimulai dari membaca tentang sejarah tetapi dengan audio visual seperti film sejarah. Pemahaman sejarah seperti ini sangat tepat diberikan khususnya pada anak-anak yang masih  muda, mereka akan lebih mudah memahami ketimbang orang dewasa yang telah dibebani oleh bermacam-macam permasalahan.
          Dalam sejarah Makro cosmos  Russell memberikan  gambaran tentang  bagaimana matahari dan planet-planetnya, proses kejadian bumi, gempa bumi, laut dan banjir besar, hujan panas. Kemudian berangsur-angsur muncul format hidup yang termasuk di dalamnya muncul jenis tumbuhan pakis, kemudian hewan lebah, ikan aneh, binatang melata yang buas , yang saling membunuh, kemudian muncul burung-burung canggung yang masih sulit terbang, binatang menyusui yang pada mulanya kecil dan berangsur-angsur jadi membesar. Kemudian mulai muncul jenis Pithecanthropus Erectus dan lain-lain dari awal manusia. Kemudian disusul penemuan-penemuan baru oleh manusia, seperti ditemukannya api  yang digunakan sebagai penerang di tempat kehidupan mereka di dalam gua dan guna berlindung dari binatang buas dan akhirnya secara berangsur-angsur menemukan senjata,  yang kian hari  kehidupan tersebut semakin menuju pada  kehidupan yang kian sempurna. Menurut Russell itu akibat kecerdasan manusia bukan kekuatan dari ciptaan Tuhan. Sampai nanti munculnya  peradaban  manusia yang diawali dari sekitar Sungai Nil dan Babilonia serta Mesir.
      Selain itu Russell juga membagi  ada “tiga besar usia kemajuan di dunia”, yaitu:
1.    Perkembangan peradaban di Timur (Mesir, Babilonia)
2.    Perkembangan peradaban di  Yunani (dari Homer ke Arcimedes)
3.    Perkembangan peradaban dari abad ke-15 sampai dengan sekarang ini.[16]
Pada masa perkembangan peradaban di Timur  dicontohkan bahwa para raja memiliki kekuasaan yang kuat dan istilah negara telah mulai muncul, ketika itu bangunan-bangunan telah mulai banyak. Para raja dan dewa sangat dihormati. Kemudian peradapan kian maju, seni menulis telah ditemukan, demikian pula dasar-dasar matematika dan seni. Demikian juga peradaban di Timur telah mengetahui tentang perdamaian dan peperangan.
Selanjutnya setelah beribu-ribu tahun kemudian muncullah peradaban Yunani, masa ini ditandai dari Homer sampai terbunuhnya Arcimedes di tangan seorang  Prajurit Roma. Ciri khusus peradaban ini antara lain, kekuasaan para raja pada masa Babilonia berganti dengan sistem Demokrasi.
Peradaban di Timur dan di Yunani masing-masing memiliki pase-pase tertentu, maka ketika abad ke-15 sampai saat ini peradaban terus mengalami perkembangan yang terus menerus berlanjut.
Menurut Russell, di antara semua sejarah, tidak ada yang begitu mencengangkan atau sulit diterangkan selain lahirnya peradaban di Yunani secara mendadak. Memang banyak unsur peradaban yang telah ada ribuan tahun di Mesir dan Mesopotamia, dan yang kemudian menyebar ke negeri-negeri sekitarnya. Namun unsur-unsur tertentu belum utuh sampai kemudian bangsa Yunanilah yang menyempurnakannya. Yang mereka capai dalam bidang seni dan sastra sudah lazim diketahui, namun yang mereka lakukan dalam bidang yang murni intelektual bahkan lebih luar biasa. Mereka menemukan matematika, ilmu pengetahuan, dan filsafat, mereka yang pertama kali menulis sejarah (history) yang berbeda dari sekedar tarikh (annals), mereka melakukan spekulasi bebas tentang hakikat dunia dan tujuan hidup, tanpa terbelenggu oleh paham-paham kolot yang diwarisi. Peristiwa itu amat mengherankan sehingga sampai saat ini pun, banyak orang yang puas dengan terbengong-bengong saja dan membicarakan kejeniusan bangsa Yunani itu berdasarkan mistik. Akan tetapi tidaklah mustahil untuk memahami perkembangan di Yunani itu secara ilmiah, dan memang itulah yang terpenting.[17]
Dalam bukunya  Sejarah Filsafat Barat”, Russell mencoba mengkaitkan sejarah filsafat dengan kondisi sosio politik zaman kuno hingga sekarang ini. Russell mencoba membahas sosok para filosof yang mempunyai kontribusi besar dalam peradaban manusia dan merinci ide-ide dasar, pemikiran-pemikiran, pengaruhnya terhadap masyarakat dan filosop berikutnya. Russell membagi tiga bagian besar filsafat Barat dalam bukunya Sejarah Filsafat Barat, yaitu:
1.    Filsafat Kuno: Zaman Pra-Sokrates, Sokrates-Plato-Aristoteles, Filsafat Kuno Pasca Aristoteles.
2.    Filsafat Katolik: Para Bapa, Para filosof Abad Pertengahan.
3.    Filsafat Modern: Dari Renaisans sampai Hume.[18]
       Russell menyatakan bahwa filsafat Katholik adalah filsafat yang mendominasi pemikiran Eropa sejak Agustinus hingga Renesance. Yang paling menonjol di antaranya adalah kekuasaan Gereja. Gereja membawa keyakinan-keyakinan filosofis menuju hubungan yang lebih erat dengan keadaan-keadaan sosial dan politik dari pada yang pernah terjadi sebelumnya atau sejak priode pertengahan, yang bisa kita hitung sejak kira-kira tahun 400 M sampai kira-kira tahun 1400 M. Filsafat pun ditulis berdasarkan sudut pandang Gereja.[19]
     Priode sejarah yang lazim disebut “modren” mempunyai banyak perbedaan pandangan tentang jiwa dengan priode pertengahan. Ada dua hal terpenting yang menandai sejarah modren, yakni runtuhnya otoritas gereja dan menguatnya otoritas sains. Kebudayaan modern kurang bernuansa gerejawi. Negara-negara semakin menggantikan Gereja sebagai otoritas politik yang mengontrol kebudayaan. Mula-mula, kekuasaan bangsa-bangsa utamanya berada di tangan raja, kemudian sebagaimana di Yunani kuno, raja-raja secara perlahan digantikan oleh demokrasi atau para tiran.[20]
       Russell juga nampaknya mengutamakan jasa besar orang-orang jenius tentang sejarah. Bahwa orang-orang jenius inilah yang memulai awal sejarah awal sehingga menjadi berkembang menjadi besar (kredit kemajuan). Selain itu sejarah disetiap tempat akan berbeda-beda dengan tempat dan keadaan suatu daerah. Ini terbukti dari suku Inca dan Maya, meskipun mereka tidak menemukan roda karena telah ditemukan oleh yang lain berdasarkan kebutuhan daerah masing-masing tapi mereka dapat menemukan penemuan yang lain oleh para orang-orang jenius yang terdapat pada sukunya, terbukti mereka menemukan seni arsitektur yang tinggi, bentuk penulisan dan lain-lain, ini sesuai dengan kebutuhan tertentu mereka dalam suatu budaya. Mereka tetap baik-baik saja tampa  roda. Ia juga menyatakan bahwa kita akan tetap tinggal di abad ke-18, karena beberapa ribu orang yang memiliki  kemampuan luar biasa tewas pada masa bayi. Maka jika orang-orang yang masih hidup itulah yang akan  menemukan tiori-tiore baru dalam mengatasi masalah kedepan dalam upaya mempermudah jalan kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga orang-orang yang hidup itu menemukan diri mereka dalam membangkitkan  kecerdasan mereka sehingga mendapatkan penemuan-penemuan baru dalam rangka mencari kemudahan hidup mereka sehingga mengarah pada kemajuan, itu semua karena orang-orang jenius. Russell nampaknya percaya pada tiori itu.[21]
      Oleh karena itu menurut Russell, merupakan kesalahan paling besar, kalau mengabaikan kecerdasan dalam suatu kemajuan peradaban, seperti halnya kera dan manusia, dalam lingkungan yang sama, memiliki metode yang berbeda dalam mengamankan makanannya. 
      Dalam pendapat yang lain juga disebutkan bahwa abad  kita dalam sejarah manusia sekarang  adalah abad dari dua manusia, Lenin dan Einstein. Lebih tepatnya jika dikatakan, abad sekarang adalah abad Rakyat dan Ilmu Pengetahuan.
      Lenin tak sesaatpun pernah merasa khawatir tinggal sendiri dalam perjuangannya. Salah satu tugas dalam perjuangannya justru menciptakan sahabat sebanyak-banyaknya dan menghancurkan musuh-musuhnya, musuh rakyat adalah golongan kecil yang berkuasa yang menggunakan kekuasaaannya untuk menggerogoti harga manusia dan kemakmurannya.
      Lenin telah memberi kita pelajaran yang sangat berharga bagaimana mengabdi pada rakyat. Di waktu lingkungan kekuasaan Sovyet tidak lebih dari sekitar Moskwa, ia telah melihat dari depan Rakyat Sovyet yang menggunakan tenaga listrik sampai ke desa-desa, karena tenaga listrik di desa-desa kaum tani menjadi salah satu syarat terpenting  bagi tiap kemajuan peradapan dan kebudayaan. Akhirnya dengan listrik tenaga manusia mendapatkan bantuan yang tak terkirakan dalam usaha produksi.
          Di akhir essey dengan judul Cara Membaca dan Memahami Sejarah, yang terdapat  pada buku Understanding History, Russell menyatakan bahwa: hidup memang harus berbuat, tapi tidak semua perbuatan adalah baik. Namun yang jelas sesuatu yang baik dan jahat itu akan nampak pada zaman berikutnya  melalui proses  terjadinya  penilaian terhadap sejarah itu sendiri  oleh penemu-penemu sejarah yang baru. Sejarah akan diperbesar jika pemikiran dan perasaan yang dibesarkan oleh sejarah maka dapat menjadi pemancar, dan itu yang akan dinilai oleh penemu sejarah-sejarah yang baru kearah  menuju yang lebih baik lagi.[22]

c.  Kritik  Russell Terhadap Hegel.

          Golongan penentang ide-ide Hegel antara lain Russell dan G.E. Moore. Di akhir abad ke-19 ketika sebagian filsuf menyerang habis-habisan ide-ide Hegel, ada golongan-golongan yang berusaha membangkitkan kembali minat terhadap Hegel. Adapun di antara mereka yaitu G.R.G. Mure, F.H. Bradleey, William Wallace, R.G. Colling Wood, T.X. Knox.[23]
          Tapi yang jelas Russel menentang pendapat Hegel antara lain yang menyatakan bahwa  Hegel tidak pernah lepas dari ide tentang “Pikiran” atau metafisika. Meski demikian, ide-ide metafisika tersebut dirangkai sedemikian rupa agar pas dengan dimensi sejarah sebuah bangsa. Menurut Hegel sejarah dunia merupakan perkembangan kesadaran akan kebebasan bagian dari realitas pikiran.[24] Akhirnya mengarah pada kondisi di mana semua manusia akan sama-sama dihormati dan hak-hak mereka diakui.
          Akan tetapi nampaknya Russell tidak menyetujuinya hal tersebut karena disisi lain Russell masih melihat adanya perbedaan zender diantara manusia. Russell juga tidak akan setuju dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, karena ia lebih condong dengan orang-orang dari generasi sebelumnya, termasuk juga pada kecendrungan terhadap komunis. Sementara Hegel lebih cendrung kepada liberalisme.
          Russell juga masih percaya bahwa perilaku perempuan harus “dibatasi oleh pertimbangan kehati-hatian”. Karena perempuan yang bebas untuk melakukan apa yang mereka suka, yaitu wanita yang telah menjadi penguasa biasanya telah menghilangkan hak keluarganya terutama anak dan suaminya. Oleh karena itu menurut Russell kita harus bersyukur dengan adanya pengekangan sosial.
          Di samping itu, Bertrand Russell juga mengkritik  silogisme Aristoteles karena silogisme tidak membawa hal yang baru. Lagi pula silogisme lebih mementingkan urutan proposisi yag sah tanpa memperhatikan isinya. Russell menandaskan bahwa logika formalnya valid, kendati kandungannya tidak bisa dibenarkan.[25]
          Jelas dari beberapa uraian diatas Russell adalah orang yang sangat mengagungkan kecerdasan, logiga lebih  penting baginya. Baginya sejarah muncul karena orang-orang yang cerdas. Orang-orang yang mengabaikan kecerdasan menurutnya adalah merupakan suatu kesalahan  besar karena baginya kecerdasan muncul bukan dari tuhan akan tetapi karena dorongan ingin memudahkan kehidupan ini.
         




























d. Fhoto Bertrand Russell
BERTRAND RUSSELL (1872-1970)
Gambar dikutip dari:
Judul buku: Bertrand Russell, Kekuasaan: Sebuah Analisa Sosial Baru, Judul asli: Power: A New Social Analysis, Penerjemah: Hasan Basri, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1988.

16


D.    KESIMPULAN

          Nama lebih lengkap Bertrand Russel adalah Bertrand Athur William Russell (1872-1970). Ia seorang tokoh yang sangat produktip dalam menulis buku. Ia membahas tentang berbagai-macam permasalahan, mulai dari filsafat, pendidikan, masalah moral, agama, sejarah dan politik bahkan ia juga ahli dalam bidang matematika dan sains.
            Menurutnya ia hanya melihat sejarah “sebagai suatu kesenangan”, sebagai  cara yang menyenangkan untuk melewatkan waktu luang seseorang dan pendekatan ini  telah banyak ia dapatkan dengan banyak membaca sejarah sebagai suatu “amatir”.
          Selain itu ia juga menyatakan bahwa sejarah menunjukkan manusia tidak pernah membuat kemajuan, melainkan kemudahan. Maksudnya, kemajuan-kemajuan teknologi yang dicapai manusia dalam berbagai bidang hanya membuat hidup manusia relatif lebih mudah, namun tidak pernah membuat manusia menjadi lebih maju secara moral.        
          Russel juga membagi sejarah ke dalam dua bagian, sejarah besar dan sejarah kecil, yaitu:
1.    Sejarah  besar, berisi pemahaman bagaimana dunia ini dikembangkan
2.    Sejarah kecil, berisi pemahaman tentang sifat manusia.
     Russell juga membagi  ada “tiga besar kemajuan di dunia”, yaitu:
1.   Perkembangan peradaban di Timur (Mesir, Babilonia)
2.   Perkembangan kebudayaan Yunani (dari Homer ke Arcimedes)
     3.   Dari abad ke-15 sampai dengan sekarang ini.   
     Russell juga mengkeritik pendapat Hegel mengenai makna kebebasan, Russell lebih condong kepada kaum sosialis. Selain itu Russell juga tokoh yang mengagungkan kecerdasan manusia. Kecerdasan  bukan datang dari Tuhan tapi dari upaya manusia dalam menemukan kemudahan-kemudahan dalam hidup.
 
17


BIBLIOGRAFI


Bertens, K. Filsafat Barat  Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta: PT Gramedia, 1990

Frondizi, Risieri. Filsafat Nilai, terj. Cuk Ananta Wijaya, Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.

Kahiry, H. Machmud, HM. Mampukah Rasio Mengenal Tuhan, Surabaya: Bina Ilmu. 1986.

Lubis, Nur Ahmad Fadhil.  Pengantar Filsafat Umum, Medan:  IAIN Press, 2001.

Russell, Bertrand. Kekuasaan: Sebuah Analisa Sosial Baru, Judul asli: Power: A New Social Analysis, Penerjemah: Hasan Basri, Jakarta:Yayasan Obor Indonesia, 1988

----------------------. Sejarah Filsafat Barat  (History of Western Philosophy),  Penerjemah: Sigit Jatmiko, Agung Prihantoro, dll, Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

-----------------------. Understanding History: And Other Essays, New York: Philosoppycal   Library, 1957.

-----------------------. Why I am Not a Chistian,  New York:  A Touchstone Book Published by Simon and schuster, 1957.

Stapleton, Michail, The Cambridge Guide to English Literature, Cambridge: University Press, 1983.

Warrington Marnie Hughes. 50 Tokoh Penting dalam Sejarah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.


           [1] Bertrend Russell, Understanding History: And Other Essays, (New York: Philosoppycal   Library, 1957), h. 9 / Google Internet, Bertrand Russel: Understanding History, tgl: 5 Nopember 2009, jam: 17. 05 Wib.
1
             [2] Nur Ahmad Fadhil Lubis, Pengantar Filsafat Umum, (Medan:  IAIN Press, 2001), h. 181
             [3] K. Bertens, Filsafat Barat  Abad XX Inggris-Jerman, (Jakarta, PT Gramedia, 1990), h. 25
             [4] Nur Ahmad Fadhil Lubis, Pengantar Filsafat Umum, h. 181-182
             [5] Bertrand Russell, Why I am Not a Chistian,  h. 267
2
              [6] Risieri Frondizi, Pengantar Filsafat Nilai, terj. Cuk Ananta Wijaya, (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 83-84
3
              [7]  K. Bertens, Filsafat Barat  Abad XX Inggris-Jerman, h. 26
              [8] Michail Stapleton, The Cambridge Guide to English Literature, (Cambridge University Press, 1983), h.768
              [9] Bertrand Russell, Why I am Not a Chistian,  (New York:  A Touchstone Book Published by Simon and schuster, 1957), h. 267
              [10] Michail Stapleton, The Cambridge Guide to English Literature, h. 769

4
              [11]  K. Bertens, Filsafat Barat  Abad XX Inggris-Jerman, h. 26
6
              [12] Google Internet Bertrand Russell: Memahami Sejarah (dikutip tgl 05/ 11/ 2009), http: // dian-yanuardy.blog.friendster.com/ 2008/07/ Judul: Menolak Akar-akar Dogmatis (Memahami Bertrand Russell).
              [13]  Ibid.
7
              [14]  Bertrand Russell, Understanding History: And Other Essays, h. 9
8
              [15]  Ibid, h. 10     
9

                [16]  Ibid, h. 11-14
10
                [17] Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat  (History of Western Philosophy),  Penerjemah: Sigit Jatmiko, Agung Prihantoro, dll, (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 3
                 [18]Ibid, h. ix-xii      
11
              [19] Ibid, h. 407-408
              [20] Ibid, h. 645

12
                [21] Russell, And Other Essays, h. 14
13
             [22] Russell, And Other Essays, h. 56
             [23] Marnie Hughes, Warrington. 50 Tokoh Penting dalam Sejarah. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), Bab G.W.F. Hegel, h. 269-270.
             [24] Ibid, h. 258-270.
14
             [25] H. Machmud Kahiry, HM, Mampukah Rasio Mengenal Tuhan, (Surabaya: Bina Ilmu. 1986), h. 22
15


Tidak ada komentar:

Posting Komentar