Kamis, 19 Januari 2012

ASAL USUL MASYARAKAT MANUSIA


Makalah



A. Pendahuluan

Malik Bennabi (1905-1973 CE/ 1325-1393 H) merupakan salah satu pemikir kontemporer yang paling menonjol di dunia Islam. Bahkan, jika dikaitkan dengan konsep sejarah dan peradaban, ia bisa dianggap sebagai pemikir Muslim terpenting setelah Ibn Khaldun (1332-1406). Muhammad Tahir al-Mesawi menganggapnya sebagai satu dari sedikit pemikir Muslim orisinil yang telah dihasilkan oleh kaum Muslimin di abad dua puluh.[1]
          
Ia mempunyai pengalaman pribadi yang menjengkelkan saat menjalani masa belajar di sebuah sekolah Perancis di Aljazair. Nilai-nilai tinggi yang berhasil dicapainya di sekolah itu tidak pernah membawanya pada peringkat kelas yang memuaskan. Apa yang dirasakannya sebagai perlakuan rasialis ini kemudian mendorong Bennabi untuk menantang Barat secara intelektual. Terlepas dari motivasi ini, Bennabi ternyata tidak muncul sebagai figur yang xenofobik atau anti terhadap orang asing (dalam hal ini orang Barat). Belakangan, ia mengkritik kalangan intelektual Muslim yang memandang Barat dari dua sudut pandang ekstrim: suci dan murni atau penuh korupsi. Ia sendiri tidak menganggap Barat sebagai sesuatu yang superior atau inferior. Unggulnya peradaban Barat dan mundurnya peradaban Islam hanyalah sesuatu yang normal dalam konteks perjalanan sejarah.[2]

B. BIOGRAFI MALIK BENNABI
bennabi
Malik Bennabi dianggap sebagai salah satu pemikir Islam terbesar abad kedua puluh. Malik dilahirkan di kota Konstantinus bagian timur Aljazair pada tanggal 1 November 1905, dari sebuah keluarga miskin dan sangat konservatif budaya Aljazair.[3] Setelah lahir, Malik dan keluarganya pindah ke T├ębessa. Ia merupakan satu-satunya anak laki-laki di keluarganya, orang tuanya sangat mendorong Bennabi dalam hal pendidikan. Ia terdaftar di pendidikan dasar dan menengah pertama, dengan gembira ia berhasil di 'Pemeriksaan Hibah' (ujian yang dibuat khusus untuk siswa yang keluarganya tidak mampu membiayai pendidikan mereka) dan diberi hibah untuk melanjutkan studi di kota Konstantinus.
Di Konstantinus ia menghabiskan tahun pertamanya untuk penelitian (1921-1922) dalam lingkungan yang penuh patriotisme dan pikiran reformasi setelah Perang Dunia Pertama. Malik belajar di sekolah yang sama perasaan nasionalis gurunya, yang mengajar dalam bahasa Arab dan ditanamkan di dalam dirinya benih persatuan nasional dan cinta. Setelah lulus dari sekolah menengah dan menyelesaikan studi empat tahun, pada bulan Juni 1925, Malik mempunyai keinginan untuk pergi ke Prancis dalam rangka untuk melanjutkan pendidikan dan memperluas pengetahuannya.
Setelah menyelesaikan masa belajarnya di Aljazair, Bennabi melanjutkan studinya di Perancis.[4] Perjalanan pendidikan yang serius, sebuah perjalanan di mana Malik memiliki ambisi untuk belajar di "Institute of Oriental Studies di Paris" berharap untuk lulus sebagai pengacara. Namun, Ia gagal dalam ujian masuk pada “School of Oriental Language”, yang kemungkinan karena posisinya sebagai seorang Muslim Aljazair, dan akhirnya mendorongnya untuk mendaftar di sebuah institut teknik, sesuatu yang tampaknya sangat membantu pendekatan berpikirnya di masa-masa mendatang. Bennabi mulai menulis dan mengembangkan gagasan-gagasannya pada masa-masa ini.[5]
Malik mulai dari awal dengan mengubah tujuannya, ia masuk ke Sekolah Fakultas Teknik Wireless, tidak jauh dari (Institute of Oriental Language), yang akan membuat niat murni berubah menjadi  teknis dan ilmiah bukannya peradilan dan politik. Pada tahun 1935 ia lulus sebagai insinyur listrik membuatnya orang pertama Aljazair menjadi insinyur listrik. Pada saat ini ia mulai mengejar impiannya untuk menulis dan mulai menulis artikel tentang isu-isu seputar dunia Islam dan pada tahun (1946) ia menerbitkan buku pertamanya "Fenomena Alquran". Antara tahun 1948 dan 1955, ia menerbitkan artikel dalam "Republik Aljazair" dan Koran "Pemuda Muslim".[6]
Dia menikah dengan seorang wanita Perancis dan memilih untuk tinggal di Perancis, tetapi sering mengunjungi Aljazair dengan istri Muslim Perancis (Khadijah). Selama tahun-tahun itu ia juga menerbitkan dua buku, "Syarat-syarat untuk kelahiran kembali" pada tahun 1948 dan "Masalah ide-ide di Dunia Muslim" pada tahun 1954. Di Mesir, ia mendapatkan rasa hormat dari sesama pemikir dan filsuf. Sejak saat itu, karyanya mulai berkembang dan memperoleh popularitas di Aljazair dan di dunia Arab.
Setelah kemerdekaan Aljazair, ia kembali ke rumah dan diangkat menjadi Direktur Pendidikan Tinggi, yang saat itu adalah terbatas (University of Algiers) sampai ia mengundurkan diri pada tahun 1967, ingin fokus pada tulisannya.
Pada akhir hidupnya, Malik menderita tekanan besar dan rasa sakit di mata dan kepalanya setelah jatuh menuruni tangga di rumahnya. Meskipun dirawat di luar negeri ia tetap dipengaruhi oleh kejadian ini dan pada 31 Oktober 1973 Malik Bennabi, sarjana peradaban, dan pemikir muslim yang paling terkenal di zaman kita, meninggal di Algiers meninggalkan pekerjaan yang dirancang khusus untuk membantu para pemikir dari abad dua puluh satu menciptakan jalan baru menuju konvergensi dari berbagai peradaban, termasuk pembentukan sebuah "peradaban kemanusiaan".

C. Pemikiran Malik Bennabi Tentang Peradaban
Sebagaimana telah dipaparkan di atas, sepanjang hidupnya, Bennabi berusaha mencari sebab mendasar dari kemunduran kaum Muslimin. Ia mengamati dan menganalisa sejarah untuk memahami hukum di balik maju dan mundurnya berbagai peradaban. Dalam mengembangkan gagasannya, Malik Bennabi banyak dipengaruhi Ibn Khaldun (1332-1406) dan Arnold Toynbee (1889-1975), di samping pemikir-pemikir lainnya. Namun, Bennabi bukan sekedar penerjemah dari para pemikir sebelumnya. Ia mengembangkan gagasan-gagasan orisinilnya sendiri.        
        Dari seluruh gagasan Bennabi, ide tentang peradaban menempati posisi yang sangat sentral dan mewarnai sebagian besar, kalau tidak dikatakan seluruhnya, ide-ide yang dikembangkannya. Bagi Bennabi, “the problem of any people is that of its civilization,” (inti) persoalan setiap orang adalah persoalan peradabannya. Karenanya, setiap upaya untuk menyelesaikan persoalan manusia harus diarahkan pada peradaban manusia tadi. Berbagai problem yang ada di dunia Islam, misalnya, pada esensinya adalah satu, dan apa-apa yang biasa disebut sebagai “problem orang Aljazair” atau “problem orang Jawa” pada kenyataannya adalah sebuah problem keislaman.[7]
        Seperti telah ditunjukkan di atas, peradaban merupakan inti persoalan yang dihadapi manusia. Namun, apa yang dimaksud dengan peradaban itu sendiri menurut Bennabi? Buat Bennabi, peradaban adalah hasil dari suatu ide yang dinamis dan hidup yang menggerakkan suatu masyarakat yang belum beradab untuk memasuki sejarah dan membentuk sistem ide-ide berdasarkan pola dasar yang dimilikinya. Kemudian masyarakat tadi mengembangkan suatu miliu kebudayaan yang otentik, yang pada gilirannya akan mengendalikan seluruh karakteristik yang membedakan masyarakat tadi dengan kebudayaan dan peradaban lainnya. Ia juga menekankan bahwa peradaban, dalam definisinya yang sederhana, bukanlah suatu tumpukan dari beragam objek (a pile of different kinds of objects). Sebaliknya, ia merupakan suatu keseluruhan yang harmonis dari benda-benda (things) dan ide-ide (ideas) dalam beragam interaksinya. Peradaban juga dapat didefinisikan sebagai “jumlah keseluruhan dari kondisi-kondisi moral dan material yang memungkinkan masyarakat yang memilikinya untuk memfasilitasi masing-masing anggotanya dengan seluruh jaminan sosial yang diperlukan bagi perkembangannya.”[8]
        Untuk bisa memecahkan persoalannya, adalah penting bagi kaum Muslimin untuk menentukan posisinya pada siklus sejarah (historical cycle) dan menghubungkan problem-problem yang mereka hadapi dengan konteks sejarahnya secara khusus dan sejarah dunia secara umum, sehingga ia bisa bergerak ke arah yang tepat. Sebagaimana Ibn Khaldun, Toynbee dan banyak sejarawan lainnya, Bennabi juga mempercayai adanya rentang hidup peradaban (lifespan of civilization). Masyarakat, sebagaimana halnya seorang individu, memiliki rentang hidup tertentu yang dipengaruhi oleh hukum kelahiran, pertumbuhan, dan kemunduran.[9] Bennabi kemudian menawarkan gagasannya sendiri berkenaan dengan rentang hidup peradaban ini. Ia membagi umur peradaban dalam tiga tahap: Tahap Spiritual (Spiritual Stage), Tahap Rasional (Rational Stage), dan Tahap Instingtif (Instingtif Stage).
        Tahap spiritual terjadi ketika suatu ide spiritual atau agama muncul dan pada gilirannya mengendalikan insting manusia. Insting ini akan diarahkan, atau dilatih, ke suatu hubungan yang fungsional dengan agama. Sebagai dampaknya, potensi spiritual mengontrol kehidupan individu dan masyarakat. Bennabi menyarankan bahwa tahap spiritual pada sejarah Islam berlangsung sejak dimulainya risalah Nabi Muhammad (saw) hingga terjadinya Perang Siffin (657 H). Pada masa ini, kerangka berpikir dan perilaku masyarakat terhadap kehidupan sangat bersifat spiritual. Bennabi percaya bahwa hanya spiritualitas yang memberikan kemanusian peluang untuk tumbuh dan maju (rise and progress). Ketika spiritualitas lenyap, peradaban jatuh (when the spirit loses, the civilization falls).
        Sementara masyarakat terus mempraktekkan prinsip-prinsip religius mereka serta menjaga ikatan internal mereka, agama akan tersebar secara global. Peradaban Islam, berangkat dari kedalaman jiwa, kemudian menyebar secara horizontal dari pantai Atlantik ke perbatasan Cina. Namun, pada titik ini perubahan mulai terjadi. Perkembangan ini menciptakan tantangan-tantangan baru yang memicu munculnya kemampuan dan kreativitas baru masyarakat. Ini merupakan tahap rasional. Ilmu pengetahuan dan seni berkembang pesat, akal (reason) mulai menjadi kekuatan pengendali, sehingga masyarakat menanjak ke puncak kurva peradaban. Walaupun demikian, akal tidak mampu mengontrol insting seefektif spiritualitas pada tahap yang pertama. Hal ini menyebabkan insting mulai terlepas bebas secara gradual dan kontrol masyarakat atas individu mulai melemah.
        Pada akhirnya peradaban akan memasuki tahap yang terakhir, yaitu tahap instingtif. Tahap ini ditandai oleh terjadinya berbagai kelemahan dan penyimpangan. Hal ini disebabkan insting telah terlepas bebas. Akal kehilangan fungsi sosialnya sementara manusia kehilangan keyakinannya. Masyarakat pun memasuki kegelapan sejarah ketika siklus peradabannya berakhir. Bennabi memandang Ibn Khaldun sebagai figur intelektual yang menandai pergantian dari fase rasional ke fase instingtif, dan ia menganggap gerakan Almohads (al-Muwahidun) di Afrika Utara sebagai representasi terakhir dari era rasional. Karenanya, ia menyebut kaum Muslimin yang hidup di era kemunduran sebagai manusia pasca Almohads (the post-Almohads man/ insan ma ba’da al-Muwahhidin).[10]
        Walaupun peradaban Muslim tengah mengalami kemunduran, Benabi percaya bahwa mereka tetap memiliki peluang untuk bangkit. Oleh karena itu, sebab-sebab kejatuhan manusia pasca Almohads perlu dipelajari secara ilmiah dan dicari penyelesaiannya. Bennabi menolak untuk memfokuskan perhatian pada sebab-sebab eksternal. Inti permasalahannya harus dicari di dalam masyarakat yang mundur itu sendiri, dalam hal ini masyarakat Muslim. Ia, misalnya, memandang sia-sia tuntutan negeri-negeri Muslim yang dijajah untuk merdeka sekiranya persoalan internal mereka, yaitu keadaan bisa dijajah (colonizability), masih ada pada diri mereka. Selain itu, untuk memicu terjadinya kemajuan dalam peradaban Islam, spiritualitas perlu dibangun kembali sehingga siklus ini bisa dikembalikan lagi ke tahap awal.
Oval: Orang

       Waktu



     TanahBennabi bukan hanya menawarkan gagasan tentang siklus peradaban, ia juga merumuskan sebuah persamaan peradaban. Bennabi merumuskan bahwa peradaban merupakan gabungan dari tiga komponen: Manusia (Insan), Tanah (Turab), dan Waktu (Waqt). Tanah dalam persamaan ini bermakna seluruh bahan mentah (raw materials) atau tanah berikut segala hal yang dikandung dan dihasilkannya. Seluruh peradaban bermula dengan pertanian dan pemanfaatan sumber daya alam yang sangat penting bagi keberadaan manusia. Ia juga memiliki dimensi sosial-politik karena Tanah dalam konsep ini mengimplikasikan kepemilikan, mensyaratkan kontrol secara teknis, serta memberikan jaminan sosial dan keamanan. Menyintai tanah air (homeland) dan mengharapkan kemakmurannya merupakan bagian dari makna Tanah di sini.
                                                                                               
                                                                    Agama sebagai katalisator
                       


                                                                                             








Man/ Insan + Soil/ Turab + Time/ Waqt = Civilization/  Hadarah
           
Selain Tanah (Turab), elemen Waktu (Waqt) juga tak bisa dabaikan karena peradaban terentang pada kurun waktu tertentu. Bennabi menyatakan bahwa masyarakat tidak hanya harus menggunakan waktu untuk menjalankan tugas, tetapi mereka harus menjalankan tugas dalam waktu sesingkat mungkin untuk mendorong terjadinya kemajuan.[11]
D. Agama sebagai katalisator peradaban

Malik Bennabi merumuskan tiga faktor utama yang menentukan pembentukan sesuatu peradaban, yaitu; manusia, tanah, dan masa. Manusia adalah faktor yang paling penting; sebagai pencipta dan penggerak sejarah. Manusia memiliki dua jenis identitas; pertama, identitas yang tetap dan tidak dapat dipengaruhi oleh sejarah, yaitu kriteria-kriteria anatomi dan fisiologi yang membentuk wujud luaran manusia, dan; kedua, yang dapat berubah dan dapat dipengaruhi oleh sejarah, yaitu kewujudan manusia secara sosial yang merupakan keadaan mental dan psikologi manusia yang ditangkap oleh struktur sejarah dan warisan sosial.
            Manusia sepanjang perjalanan sejarah berinteraksi dengan masa dan ruang tidak dalam kedudukannya sebagai ciptaan alami, melainkan sebagai kepribadian-kepribadian sosial. Tanah (turab), sebagai faktor kedua, adalah sumber alam yang lebih berkaitan dengan konsep-konsep sosial. Istilah tanah (turab) digunakan untuk menjauhi istilah materi (madah), karena perkataan 'materi' dalam akhlak berarti suatu konsep yang berlawanan dengan perkataan 'roh', dalam sains ia bermaksud lawan dari perkataan 'energi' dan dalam filsafat perkataan 'materi' memberi maksud yang berlainan dengan 'ide'.
            Masa adalah faktor ketiga dalam proses pembentukan peradaban. Yang dimaksudkan dengan masa adalah nilainya dalam kehidupan manusia dan hubungannya dengan sejarah, kebangkitan ilmu, produktivitas, dan pencapaian peradaban. Akan tetapi menurut Malik Bennabi, wujudnya ketiga-tiga faktor tersebut tidak dapat secara pasti dan secara otomatis dapat melahirkan suatu peradaban. Sebuah teka-teki yang dapat dijawab oleh ilmu kimia.
            Air pada dasarnya adalah hasil dari hidrogen dan oksigen. Meskipun demikian kewujudan kedua-dua unsur ini tidak menjamin secara langsung terciptanya air. Menurut para ahli kimia, proses pembentukan air turut dipengaruhi oleh faktor lain yang berupa katalisator yang dapat mempercepat proses penyusunan dua unsur hidrogen dan oksigen yang seterusnya menyebabkan terciptanya air.
            Demikian juga, menurut Malik Bennabi, dengan proses pembentukan peradaban, walaupun sudah tersedia tiga faktor utama; manusia, tanah, dan masa, masih diperlukan faktor lain sebagai katalisator yang dapat mengolah dan menyusun ketiga-tiga unsur tersebut dan menjadikannya suatu peradaban. Katalisator yang dimaksud dalam konteks ini menurut Malik Bennabi adalah agama. Agama atau "pemikiran agama inilah yang selalu wujud di balik kelahiran suatu peradaban dalam sejarah." Agama menurut Malik Bennabi adalah katalisator (catalyseur) yang menjadikan manusia, tanah, dan masa sebagai suatu kekuatan dalam sejarah dan yang menyebabkan kelahiran suatu peradaban. Dalam pandangan Malik Bennabi tidak hanya peradaban-peradaban besar dunia seperti peradaban Islam, peradaban Kristen Eropa dan peradaban Buddha Cina, tetapi bahkan "peradaban komunis" yang anti-agama adalah juga lahir dari pemikiran agama.
Malik Bennabi memandang komunisme dari dua aspek; aspek sejarah dan aspek psikologi yang berhubung-kait dengan keyakinan. Dilihat dari aspek sejarah, komunisme atau marxisme adalah 'krisis' internal peradaban Kristen, yaitu ketika agama itu tidak lagi memiliki nilai-nilai gaib, seperti kata Gonzague de Reynol bahwa peradaban Rusia adalah peradaban Kristen Ortodok yang 'tersalah tembak', atau seperti ungkapan Toynbee bahwa komunisme adalah satu halaman buku Kristen yang terkoyak dan tersalah baca.
Dari aspek psikologi, komunisme atau marxisme adalah sebagai pemikiran keagamaan yang berhubungan dengan keyakinan para penyokong dan pengikutnya terahadap ide-ide dan doktrin-doktrin yang dicipta oleh Karl Marx, sebagai ajaran yang memiliki tulisan-tulisan yang disucikan, memiliki surga dan neraka, keselamatan dan kecelakaan, dan sebagai sebuah agama tanpa Tuhan.
Di antara semua elemen itu, tentu saja Manusia (Insan) menempati posisi yang paling penting. Manusia merupakan faktor peradaban yang paling utama. Dalam bahasa Bennabi, “jika ia bergerak maka masyarakat dan sejarah juga bergerak, dan jika ia diam maka masyarakat dan sejarah juga diam.” Hubungan antara manusia dan peradaban bersifat dua arah. Di satu sisi, manusia merupakan pembentuk sejarah, tetapi di sisi lain ia juga merupakan produk sejarah.[12] Karena posisi Manusia yang krusial, maka tantangan terbesar yang dihadapi oleh kaum Muslimin adalah membentuk orang-orang yang mampu mengolah Tanah (Turab) dam Waktu (Waqt) serta membangun kreatifitas mereka untuk mencapai target-target besar sejarah. Bagaimanapun, Bennabi berargumen bahwa ketiga elemen di atas, yaitu Manusia, Tanah, dan Waktu, memerlukan hal lain, sebuah katalis, yang memungkinkan ketiganya untuk bereaksi dan membentuk peradaban. Katalis tersebut adalah agama atau ide spiritual. Itulah sebabnya mengapa banyak masyarakat yang memiliki ketiga unsur peradaban di atas tetapi tidak juga berhasil membangun sebuah peradaban besar. Sebab utamanya adalah karena mereka tidak memiliki katalis berupa agama yang mampu menggerakkan ketiga aspek tersebut menuju ke puncak sejarah dan peradaban.
            Lebih jauh Bennabi menjelaskan bahwa individu dan masyarakat mengembangkan sejarahnya melalui tiga kategori sosial: alam benda (‘alam al-ashya‘/ the realm of things or objects), alam persona (‘alam al-ashkhas/ the realm of persons) dan alam ide (‘alam al-afkar/ the realm of ideas)[13]. Untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban, manusia dan masyarakat perlu bergerak dari alam benda ke alam ide, karena ide merupakan aspek terpenting dalam proses pembentukan kedua hal tersebut. Kegagalan manusia pasca Almohads adalah karena ia memiliki kecenderungan untuk mengarahkan kehidupan masyarakat pada kebendaan (thingness) atau materialisme. Bennabi menjelaskan bahwa dilema yang dialami oleh negara-negara terbelakang bukanlah ketiadaan atau minimnya materi, melainkan karena miskinnya ide (poverty of ideas). Mereka terjebak ke dalam apa yang disebut Bennabi sebagai peradaban kebendaan (hadara shahiyya/ thingness civilization) yang memfokuskan perhatian mereka pada pengakumulasian (takdis) produk dan hal-hal material. Hal ini sayangnya tidak akan membuat peradaban menjadi maju dan bergerak naik, karena produk tidak pernah menciptakan sebuah peradaban. Peradaban lah yang menciptakan produk-produk.
            Ia menjelaskan betapa Jerman telah mengalami kehancuran dalam alam benda (‘alam al-ashya‘) mereka pada masa Perang Dunia II, tetapi mereka mampu segera bangkit dan membangun kembali apa-apa yang hancur dari alam benda tadi, karena mereka mendasari peradaban mereka pada alam ide (‘alam al-afkar).[14] Hal yang sama juga tentunya bisa dilihat pada Jepang yang juga mengalami kehancuran saat perang tetapi mampu segera membangun kembali peradaban mereka. Ini menjadi bukti bagaimana ide-ide memiliki kemampuan dalam mengembangkan peradaban dan menciptakan produk.
            Ketiadaan atau mandegnya ide akan mempengaruhi alam benda secara signifikan. Namun, jika alam benda bisa hancur karena alasan-alasan tertentu, ide-ide yang pada dasarnya merupakan kekayaan sesungguhnya dari suatu bangsa tidak akan menderita kehancuran yang sama. Karena itu, setiap upaya dalam merekonstruksi kebudayaan Muslim perlu dilakukan dengan menguji dan menyaring kumpulan ide yang dimiliki oleh kaum Muslimin. Proses inilah yang memungkinkan kaum Muslimin untuk menemukan kembali peradaban mereka.
           
E. Kesimpulan
            Malik Bennabi, sebagaimana telah dipaparkan di atas dan juga telah diakui oleh sebagian ilmuwan, telah melihat persoalan yang dihadapi kaum Muslimin, atau juga persoalan suatu masyarakat yang mengalami keadaan yang sama, dengan sebuah pandangan yang menarik. Ia menganggap bahwa inti persoalan setiap manusia adalah pada peradabannya dan karenanya setiap usaha untuk menyelesaikan persoalan itu harus diarahkan pada tingkat peradaban. Untuk itu, ia mengembangkan sebuah kerangka peradaban yang bisa digunakan oleh kaum Muslimin untuk memecahkan berbagai persoalan mereka dan memajukan kembali peradaban mereka. Teori yang dikembangkan Bennabi ini bisa digunakan oleh kaum Muslimin pada hari ini untuk menentukan posisi sejarah mereka, menentukan arah tujuan mereka, dan membentuk alam ide mereka sehingga peradaban mereka bisa kembali tegak di masa mendatang.



Daftar Pustaka


[1] Bennabi, Malik. The Problem of Ideas in the Muslim World. Budaya Ilmu Sdn. Bhd, Selangor Darul Ehsan. 1994.
[2] Joly, Daniele. The French Communist Party and the Algerian War. Macmillan Press ltd., Hampshire. 1991.
[3] Ruedy, John. Modern Algeria: The Origin and Development of a Nation. Indiana University Press, Indianapolis. 1992.
[4] Bariun, Fawzia. Malik Bennabi: His Life and Theory of Civilization. Muslim Youth Movement of Malaysia, Kuala Lumpur. 1993.
[5] al-Quraisyiy, Ali. Malik Binnabi dan Pergolakan Sosial, vol. 1. Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia, Kuala Lumpur. 1996.
[6] Bennabi, Malik. On the Origin of Human Society. The Open Press, London. 1998.
[7] Bennabi, Malik. The Question of Culture, Islamic Book Trust, Kuala Lumpur. 2003.
[8] Bennabi, Malik. Islam dalam Sejarah dan Masyarakat, (originally Vocation de l’Islam). Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur. 1991.



[1] Malik Bennabi, The Problem of Ideas in the Muslim World (Selangor: Darul Ehsan, 1994), h. xiii.
[2]  Fawzia Bariun, Malik Bennabi: His Life and Theory of Civilization (Malaysia: Kuala Lumpur, 1993), h. 156.
[3] Ammar Talibi, Malik Bennabi Wal Hadarah (Al-Thaqafa, Tahun III, 1974), h. 10
[4]  Ali al-Quraisyiy membagi biografi Bennabi sejak masa ini hingga akhir hidupnya menjadi tiga periode: Periode Paris (1930-1956), Periode Kairo (1956-1963), dan Periode Aljazair (1963-1973). Lihat Ali al-Quraisyiy, Malik Binnabi dan Pergolakan Sosial, vol. 1. (Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia, Kuala Lumpur, 1996), h. 18-28.
[5] Fawzia Bariun, Malik Bennabi: His Life and Theory of Civilization (Malaysia: Kuala Lumpur, 1993), h. 78.
[6] Ibid,. Bariun, Malik Bennabi, h. 88
[7]. Bariun. 1993. Malik Bennabi, h. 166.
[8] Bennabi. 1994. The Problem of Ideas …., 26.
[9] Bariun. 1993. Malik Bennabi …, 122.
[10] Bariun. 1993. Malik Bennabi …, 116-118.
[11] Bariun, 1993. Malik Bennabi …, 178-179.
[12] Bennabi, Malik. 1998. On the Origin of Human Society. The Open Press, London,h. 31.
[13] Ibid, Malik, On the Origin, h. 27-28
[14] Bennabi, Malik. 2003. The Question of Culture, Islamic Book Trust, Kuala Lumpur,h. 29.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar