Kamis, 28 Mei 2015

FRANCIS FUKUYAMA: THE END OF HISTORY AND THE LAST MAN



A.   Pendahuluan
Di penghujung abad ke-20 ini, dalam ilmu-ilmu sosial, disemaraki oleh dua buku: pertama dari Francis Fukuyama, The End of History and the Last Man (1992), dan kedua dari Samuel P. Huntington, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996). Kedua buku tersebut oleh para sarjana sosial di sebagian besar dunia memang telah ditempatkan sebagai buku terpenting untuk memahami kondisi global setelah usai Perang Dingin.[1]
          Karya monumental Francis Fukuyama mengartikulasikan sebuah paradigma yang diawali dengan pembahasan bahwasanya di abad 21 ini terutama pasca Perang Dingin, telah menjamur ‘perdamaian’ di seluruh dunia. Berakhirnya masa berlaku ideologi lain, baik yang Moderat dan Kiri di panggung internasional, dengan mudahnya disimplifikasikan sebagai ‘Kemenangan’ ideologi Barat. Begitupun dalam ekonomi, komoditi yang semakin meluas, baik ragam produk (terutama fashion, dan teknologi informasi), geografis (pemasaran) maupun level pembeli (konsumen) juga dimasukkan sebagai pembenar finalnya peradaban manusia.

          Semakin menyatunya dunia, semakin homogennya sistem pemerintahan, semakin satunya pola pikir manusia, yang sebenarnya banyak sekali dibahas dalam studi globalisasi, dijadikan satu asumsi bahwa  manusia mulai meyakini satu saja sistem kehidupan, yaitu demokrasi liberal ala Barat (Anglo-Saxon). Akhir sejarah setidaknya dijumpai pada tiga titik nadir, yaitu berakhirnya evolusi ideologi manusia, universalisasi demokrasi liberal ala Barat, dan bentuk final pemerintahan ‘manusia’.
Self-confidence Fukuyama banyak berdasarkan filosofinya sendiri tentang manusia, alam dan kehidupan. Setidaknya ini harus ia meliki ketika ia meyeret Hegel dan Kojeve, serta tentu saja Marx dalam tulisannya. Memang Hegel telah menyatakan bahwa sejarah telah berakhir, pasca Perang Jena. Manusia dipikirkan telah mengalami serangkaian kemajuan, mulai dari tahap primitif, tribal, perbudakan, teokratik, dan akhirnya masyarakat domokrasi-egaliter. Manusia bagi Fukuyama merupakan produk dari sejarahnya yang konkret dan lingkungan sosialnya, dan bukan dari sebuah koleksi atribusi yang ’natural’. Keunggulan beserta transformasi lingkungan natural manusia didapatkan melalui pengaplikasian ilmu dan teknologi. Di sinilah diambil notion, bahwa history (some day) culminated in an absolute moment-a moment in which a final, rational form of society and state became victorious.[2]

B. The End of History
  1. Biografi Francis Fukuyama
Francis Fukuyama dilahirkan pada 27 Oktober 1952 di Hyde Park di daerah Chicago. Ayahnya bernama Yoshio Fukuyama, seorang keturunan kedua dari pernikahan pasangan Jepang-Amerika. Yoshio Fukuyama aktif sebagai menteri dalam Gereja Jamaat dan menerima gelar doktor di bidang Sosiologi dari Universitas Chicago. Ibu Francis Fukuyama bernama Toshiko Kawata Fukuyama lahir di Kyoto, Jepang, merupakan puteri dari Shiro Kawata. Shiro Kawata adalah seorang pendiri Fakultas Ekonomi pada Universitas Kyoto dan presiden pertama Universitas Osaka City di Osaka.[3]
Masa kecil Fukuyama dihabiskan di New York.  Pada tahun 1967 keluarga Fukuyama pindah ke State College di Pennysilvania, dimana dia menempuh pendidikan sekolah menengah atas. Hemat penulis, perpindahan Yoshio Fukuyama dan keluarga ke State College dikarenakan profesi Yoshio Fukuyama adalah sebagai seorang doktor bidang Sosiologi dari Universitas Chicago. Perpindahan tersebut memungkinkan Francis Fukuyama yang pada saat itu sedang berada menempuh sekolah menengah atas ikut pindah bersama orang tuanya, Yoshio Fukuyama.
Fukuyama menerima gelar Bachelor of Arts di bidang klasik dari Cornell University, dimana ia belajar filsafat politik di bawah bimbingan Allan Bloom. Dia meraih gelar Ph.D dalam bidang pemerintahan dari Harvard University. Ketika belajar filsafat politik, Fukuyama berguru langsung dengan Samuel P. Huntington dan Harvey C. Mansfield.[4]
Fukuyama dikenal sebagai penulis populer dari bukunya  The End of History and the Last Man. Dalam buku ini ia berargumen bahwa kemajuan dari sejarah manusia adalah sebagai perjuangan antara ideologi yang secara luas berada pada tahap terakhir dengan dunia yang tertuju pada demokrasi liberal yang setelah akhir perang dingin dan runtuhnya Tembok Berlin pada tahun 1989. Fukuyama telah meramalkan kemenangan global dari liberalisme ekonomi dan politik.[5]
Tulisan Fukuyama lainnya adalah Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity (1995), The Great Disruption: Human Nature and the Reconstitution of Social Order (1999), Our Posthuman Future: Consequences of the Biotechnology Revolution (2002), State-Building: Governance and World Order in the 21st Century (2004), dan America at the Crossroads: Democracy, Power, and the Neoconservative Legacy (2006).
Aktivitas Fukuyama dimulai dengan bergabung pada Departemen Ilmu Politik pada RAND Corporation pada tiga periode, yaitu sejak 1979-1980, kemudian berlanjut dari tahun 1983 hingga 1989, dan akhirnya pada tahun 1995-1996. Pada tahun 1981-1982 Fukuyama menjadi anggota Staf Perencanaan Kebijakan di Departemen Amerika Serikat, sekaligus juga merupakan kali pertamanya sebagai anggota tetap ahli bidang Timur Tengah. Setelah itu ia menjabat sebagai Wakil Direktur Bidang Politik-Militer. Pada tahun 1981-1982 Fukuyama menjadi anggota delegasi Amerika Serikat terhadap Mesir-Israel yang berbicara tentang otonomi rakyat Palestina.[6] Saat ini Fukuyama menjabat sebagai guru besar sekaligus direktur pada Universitas Johns Hopkins yang terletak di Washington DC. Ia merupakan seorang guru besar dalam bidang Ekonomi Politik Internasional.

  1. Pemikiran Sejarah Francis Fukuyama
Tesis Fukuyama yang pertama kali muncul dalam artikel The End of History di Jurnal The National Interest No. 16 Musim Panas 1989 dengan mengambil dasar filosofi Hegelian, menegaskan bahwa kondisi global  setelah Perang Dingin menunjukkan kemenangan sistem politik demokrasi liberal komunisme di mana setiap negara di dunia mau tidak mau akan mengikuti sistem politik tersebut. Jelasnya komunisme sebagai rival dari demokrasi liberal telah kalah dan runtuh sehingga tidak bisa berbuat apa-apa. [7]
Pada akhirnya menurut Fukuyama, setelah komunisme yang selama ini dikomandoi oleh Uni Sovyet runtuh, sejarah mencatat bahwa  bagaimanapun demokrasi muncul sebagai pemenang. Dari paradigma filsafat, tentu saja hal ini menunjukkan kemenangan sejarah idealisme daripada sejarah materialisme. Filsafat idealisme Hegel sendiri selama ini bisa tumbuh subur berkat jasa filsuf bernama Alexandre Kojeve di Prancis, yang cukup fenomenal mempengaruhi para filsuf Prancis kontemporer seperti Jean-Paul Sartre di sayap Kiri dan Raymon Aron di sayap Kanan. Lalu mempengaruhi Fukuyama di Amerika Serikat.[8]
Dalam artikelnya itu, Fukuyama dengan penuh percaya diri mengemukakan bahwa pasca Perang Dingin usai, maka kapitalisme dan demokrasi liberal menjadi puncak dan akhir peradaban dunia. Sesungguhnya ia sangat dipengaruhi oleh filsafat sejarah Hegel. Georg Wilhelm Friedrich Hegel semasa hidupnya percaya bahwa sejarah telah berakhir pada masa kejayaan Prussia. Hegel sangat menekankan pemahaman sejarah sebagai suatu proses dialektika yang terus berputar. Dengan mengadopsi pandangan filsafat sejarah Hegel, Fukuyama memaknai sejarah as the dialectical processes and not the occurance of events. Kemudian berangkat dari pemahaman ini pula ia memberikan penegasan bahwa akir sejarah bukan berarti siklus alam seperti kelahiran, kehidupan dan kematian akan berakhir, atau bahkan peristiwa-peristiwa penting tidak akan lagi terjadi.[9]
Namun ternyata dialektika masih terus berjalan dengan munculnya Komunisme yang justeru merupakan sebuah bentuk penyelewengan dari filsafat idealisme Hegel sendiri mejadi sejarah materialisme yang dihembuskan oleh muridnya, Karl Marx. Selain itu muncul pula kekuasaan besar lainnya yang menentang demokrasi seperti fasisme dan Nazi yang menang tidak berumur panjang. Tapi akhir sejarah lebih dimanknai bahwa tidak akan ada kemajuan penting lebih lanjut dalam perkembangan yang mendasari prinsip-prinsip dan institusi-institusi, karena seluruh persoalan besar yang sesungguhnya telah terjawab.[10]
Lebih lanjut Fukuyama menjelaskan bahwa setelah kapitalisme dan demokrasi liberal di Eropa pada abad ke-16 dan ke-17 tercapai, maka itu merupakan tahap akhir dari proses penciptaan ide dalam sejarah. Untuk selanjutnya, tidak akan ada ide baru. Tidak ada lagi kemajuan-kemajuan dan peristiwa besar lain di dunia ini yang dipandang penting untuk dicatat dalam majalah, surat kabar, radio, televisi dan media massa atau elektronik lainnya.[11]
Sebenarnya, sebelum Fukuyama mengajukan tesis The End of History ini, tesis serupa telah dikemukakan oleh dua pemikir besar dunia, yaitu G.W.F. Hegel dan Karl Marx. Hegel menyebutkan bahwa, sekalipun sejarah ini terus berputar sebagai siklus, tapi akhirnya sejarah dan peradaban akan berhenti pada satu titik di mana liberal state telah tercapai. Sedangkan Marx melalui determinisme sejarahnya dengan faktor ekonomi, menyebutkan communist society merupakan puncak peradaban sebagai akibat dari kebobrokan kapitalisme yang tidak lagi dapat ditolerir.[12]
Menurut Fukuyama, selama kurang lebih satu dasawarsa terakhir, sulit dihindari adanya perasaan bahwa sesuatu yang sangat mendasar telah terjadi dalam sejarah dunia. Banyak artikel yang menyambut berakhirnya Perang Dingin, dan kenyataan bahwa ’perdamaian’ tampaknya muncul dimana-mana. Pada abad ke 20 dapat disaksikan bahwa terperosoknya dunia maju ke dalam ledakan kekerasan ideologis, sementara liberalisme bergelut, pertama melawan sisa-sisa absolutisme, kemudian dengan bolshevisme dan fasisme, dan akhirnya melawan marxisme baru yang mengancam akan menjerumuskan dunia ke dalam kiamat perang nuklir. Namun abad yang mulai dengan penuh percaya rasa percaya diri pada puncak kemenangan demokrasi liberal Barat tampaknya sudah akan berputar, kembali ke titik permulaan lingkaran: bukan pada ”akhir ideologi” atau titik temu antara kapitalisme dan sosialisme seperti diramalkan semula, tapi pada kemenangan liberalisme ekonomi dan politik.[13]
Apa yang sedang kita saksikan bukan saja berakhirnya Perang Dingin atau berlakunya suatu kurun tertentu sejarah pasca perang, tetapi berakhirnya sejarah itu sendiri; yakni titik akhir evolusi ideologi manusia dan universalisme demokrasi liberal Barat sebagai bentuk akhir pemerintahan manusia. Di sini tidak akan lagi terjadi peristiwa yang akan mengisi halaman-halaman ikhtisar tahunan hubungan internasional pada jurnal Foreign Affairs, karena kemenangan liberalisme itu terjadi terutama dalam bidang ide atau kesadaran dan belum lengkap dalam dunia nyata atau materi. Tetapi ada alasan kuat untuk percaya bahwa dalam jangka panjang yang ideallah yang akan menguasai dunia materi. Untuk memahami gejala ini, pertama-tama kita harus mempertimbangkan beberapa masalah teoritis mengenai hakikat perubahan sejarah.[14]
 Pandangan mengenai berakhirnya sejarah ini tidak asli. Penganjurnya yang paling kesohor adalah Karl Marx. Ia yakin bahwa arah perkembangan sejarah ditentukan oleh saling pengaruh berbagai kekuatan materi, dan hanya akan berhenti setelah tercapai utopia komunis yang akhirnya akan menyelesaikan semua kontradiksi sebelumnya. Tetapi konsep sejarah sebagai proses dialektika yang mengandung awal, tengah dan akhir ini sebenarnya dipinjam oleh Marx dari pendahulunya, Georg Wilhelm Friedrich Hegel.[15] Hegel percaya bahwa sejarah akan mencapai titik puncaknya dalam suatu momen absolut-momen tercapainya kemenangan suatu masyarakat dan negara yang final dan rasional.[16]
Di antara para penafsir modern Hegel di Prancis yang paling tersohor adalah Alexandre Kojeve, seorang pelarian dari Rusia  yang memberikan serangkaian kuliah yang sangat berpengaruh di Paris pada 1930-an di Ecole Practique des Hautes Etudes. Kojeve berusaha menghidupkan kembali Hegel dengan Phenomenology of Mindnya, Hegel yang memproklamasikan bahwa sejarah akan berakhir pada 1806. Saat itu ia melihat penaklukan monarki Prussia oleh Napoleon dalam Pertempuran Jena sebagai kemenangan cita-cita Revolusi dan universalisasi bentuk negara yang merangkum asas kebebasan dan persamaan. Pertempuran Jena menandai berakhirnya sejarah karena pada titik itulah para pelopor kemanusiaan (istilah yang akrab di kalangan Marxis) mewujudkan prinsip-prinsip Revolusi Prancis.[17]
Bagi Hegel, kontradiksi yang mendorong sejarah mula-mula muncul dalam kesadaran manusia adalah  pada tahap ide-bukan dalam gagasan mentah politikus Amerika pada tahun pemilihan, tetapi ide dalam pengertian pandangan-pandangan dunia yang besar dan bersifat menyatukan serta paling tepat dipahami lewat pembahasan ideologi. Ideologi di sini tidak terbatas pada doktrin sekuler dan politik eksplisit seperti biasanya kita hubungkan dengan istilah ini, tapi mencakup agama, kebudayaan dan nilai-nilai yang mendasari hidup masyarakat.[18]
Seperti Kojeve dan juga semua murid Hegel yang baik, untuk memahami proses mendasar sejarah kita perlu memahami perkembangan alam kesadara suatu ide, karena alam kesadaran pada akhirnya akan membentuk kembali dunia materi menurut citranya sendiri. Untuk mengatakan bahwa sejarah sudah berakhir pada 1806 berarti evolusi manusia sudah berakhir pada  ide Revolusi Prancis dan Revolusi Amerika: walaupun berbagai rezim tertentu di dunia riil mungkin tidak melaksanakan ide revolusi tersebut sepenuhnya, kebenaran teoritis ide itu sudah mutlak dan tidak dapat disempurnakan lagi.[19]
Jika sejenak kita mengakui bahwa fasisme dan komunisme yang mengancam liberalisme itu telah mati, apakah ada ideologi pesaing lain? Atau dengan kata lain adakah kontradiksi antar kelas yang belum terselesaikan? Ada dua kemungkinan yang jelas yaitu agama dan nasionalisme.
Bangkitnya fundamentalisme agama pada tahun-tahun terakhir ini di kalangan Kristen, Yahudi dan Muslim telah banyak dibicarakan. Orang cenderung mengatakan bahwa kebangkitan agama sedikit banyak membuktikan adanya kekecewaan luas terhadap hubungan pribadi dan terjadinya kekosongan spiritual masyarakat konsumtif liberal. Namun sementara kekosongan di jantung liberalisme ini jelas merupakan cacar ideologis-sesungguhnya cacat yang tidak memerlukan perspektif pengakuan agama-masih belum jelas sama sekali apakah cacat ini dapat sembuh lewat politik. Liberalisme modern sediri secara historis  merupakan akibat kelemahan masyarakat agama yang karena gagal mencapai kesepakatan mengenai hakikat hidup yang baik tidak mampu menciptakan prakondisi perdamaian dan stabilitas paling minimal sekalipun.[20]
Walaupun kita tidak mungkin mengesampingkan kemungkinan munculnya ideologi baru secara tiba-tiba atau kontradiksi-kontradiksi yang sebelumnya tidak dikenal dalam masyarakat liberal, dunia saat ini tampaknya menegaskan bahwa prinsip-prinsip dasar organisasi sosio-politik tidak pernah memperoleh kemajuan jauh sejak 1806. Banyak di antara perang dan revolusi yang terjadi sejak saat itu dilakukan atas nama berbagai ideologi yang mengaku lebih maju daripada liberalisme, tapi pretensinya pada akhirnya ditelanjangi oleh sejarah. Sementara itu, ideologi-ideologi tersebut telah membantu menyebarkan bentuk negara homogen universal sampai di mana mereka mampu memberikan pengaruh yang berarti kepada karakter keseluruhan hubungan internasional.[21]

  1. Kritik Terhadap Pemikiran Francis Fukuyama
Jika ditelusuri lebih lanjut, dapat dijumpai kelemahan dalam tesis seperti yang dikemukakan oleh Hegel, Marx, maupun Fukuyama. Ketiganya beranjak dari pemahaman filsafat sejarah sebagai proses dialektika atau proses evolusi. Pandangan ini menekankan bahwa tesis akan memunculkan antitesis, dan akhirnya melahirkan sintesis. Sintesis pada gilirannya akan menjadi tesis kembali dan timbul antitesis, lalu sintesis baru. Demikian seterusnya. Dengan demikian, ada contadiction in terminis dalam tesis ketiga pemikir tersebut di atas. Sebab ketiganya menyatakan ada akhir sejarah dan peradaban, dan tak ada lagi peradaban yang akan terukir dalam sejarah setelah ketiga puncak peradaban itu benar-benar terwujud.[22]
Kini, paling tidak ada tiga peristiwa dunia yang menandai perkembangan baru; Partai Buruh memenangkan pemilu dan memimpin parlemen di Inggris, Partai Sosialis menggeser Partai Republik di Prancis, dan dua sistem dalam satu negara pasca pengembalian Hongkong ke RRC pada               1 Juli 1997. ini semua merupakan tanda bahwa tesis Fukuyama terbantahkan. Bila Fukuyama sangat yakin bahwa kapitalisme dan demokrasi liberal merupakan akhir sejarah, dengan demikian ini merupakan bentuk hegemoni baru setelah The New World Order, maka ketiga peristiwa tersebut sesungguhnya merupakan bukti kuat ketidakpastian tesis Fukuyama mengenai masa depan global.
Yang kita saksikan sekarang adalah proses dialog antar peradaban yang didasarkan atas hikmah dan bukan hegemoni. Artinya baik Inggris, Prancis maupun RRC merasakan perlunya proses adaptasi terhadap hikmah yang dimiliki oleh peradaban atau ideologi lain. Dan bukan untuk mempertentangkannya secara diametral.
Beberapa sejarawa mengomentari Fukuyama sebagai berikut.
a. Irving Kristol
Menurut Irving Kristol, pemikiran Karl Marx yang mempengaruhi pemikiran sejarah Fukuyama memiliki kelemahan. Pendapat Karl Marx mencampuradukkan ide brilian dengan realitas politik duniawi dan manusiawi, bahkan menempatkan realitas itu di bawah ide.[23] Irving Kristol tidak sependapat dengan Hegel dan penerusnya, Francis Fukuyama. Menurut Iriving Kristol satu-satunya jalan untuk membebaskan diri dari perasaan dan cara berpikir Hegel adalah kembali kepada Aristoteles dan gagasannya bahwa semua bentuk pemerintahan-demokrasi, oligarki, aristokrasi, monarki dan tirani-pada hakikatnya tidak stabil, bahwa semua rezim politik pada hakikatnya mengalami transisi, bahwa stabilitas semua rezim digerogoti oleh kekuatan waktu. Bukan kebetulan jika dalam hal ini retorika Aristoteles cocok dengan retorika Hegel, bahwa abad ke-20 telah menyaksikan terjadinya berbagai pemberontakan terhadap demokrasi sekuler liberal-kapitalis. Semua pemberontakan itu gagal, tapi sumber yang memberi semangat kepada pemberontakan semacam itu tetap ada. Artinya, demokrasi Amerika meski tampak unggul, namun masih rawan; rawan karena justru merupakan demokrasi sebagaimana adanya, dengan segala problematikanya-untuk membedakannya dari sekedar problema yang membara dari demokrasi semacam itu.[24]
         
b. Pierre Hassner
Menurut Pierre Hassner pendekatan yang dilakukan Fukuyama sendiri agak tidak lazim. Di satu pihak ia menyimpulkan pengalaman abad ke-20 sebagai kemenangan demokrasi liberal dan masyarakat konsumtif. Di pihak lain, ia menggunakan Hegel sebagai landasan filsafatnya untuk memberikan uraian yang sebagaian besar tampaknya lebih banyak berbicara mengenai zaman Pencerahan abad ke-18, mengenai Locke atau Kant, tapi pada penutupnya mengembangkan hantu “manusia terakhir” (the Last Man)-nya Nietzsche.[25]
Kita menerima penafsiran Kojeve (yang mengagumi Stallin dan percaya pada kekuasaan negara rasional), tampaknya perang dan revolusi memang akan memudar, dan manusia tampaknya akan kehilangan sifat menentang yang telah menjadi tenaga penggerak sejarah. Tetapi semua ini tidak berhubungan dengan kasis yang sangat umum dan agak berdimensi tunggal tentang pengaruh ide yang dikembangkan Fukuyama. Walaupun dalam pengertian tertingginya sejarah adalah ide itu sendiri, lewat kerja dan peranglah sejarah bergerak maju, dan kesadaran pada dasarnya melihat ke masa lalu.
Sebaliknya seandainya sejarah memang telah berakhir, ini tidak berarti bagi Kojeve, bahwa seni dan filsafat tidak mungkin ada lagi. Isi barulah yang tidak mungkin ada; semua orang telah menjadi filsuf dan seniman.[26]
Apa yang masih meragukan ialah apakah semua ini merupakan suatu perubahan mendasar dalam sejarah atau akhir dari suatu siklus a la Spengler (rujukan yang saya gunakan sebagaimana Fukuyama merujuk pada Hegel) dengan semua unsur uangnya yang kita kenal, pertumbuhan kota besar dan ketiadaan hukum yang menyertainya, serta berkembangbiaknya tahayul dan tindakan nyeleneh sebagai pelarian-suatu keadaan yang secara tradisional dikaitkan dengan merosotnya suatu peradaban besar.[27]

c. Steven Sestanovich
          Menurut Steven Sestanovich, kesenjangan antara pertumbuhan awal ide liberal dan pengejawentahannya kemudian di lembaga-lembaga sosial dan politik tidak saja menjadi persoalan dalam meramalkan masa depan, tapi juga soal penafsiran masa lalu. Bukankah cukup panjang jarak waktu antara Pertempuran Jena dengan berdirinya Republik Weimar, apalagi hari kemerdekaan Eropa dalam Perang Dunia II. Satu cara untuk mengecek teori sejarah adalah menguji apakah teori itu mampu menjelaskan kesenjangan antara gagasan dan kenyataan.[28]

C. Kesimpulan
Melalui bukunya, The End of History and The Last Man, Fukuyama hendak mengatakan bahwa pasca perang dingin, tidak akan ada lagi pertarungan antar ideologi besar, karena sejarah telah berakhir dengan kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal. Meskipun menyadari evolusi sejarah, Fukuyama beranggapan bahwa demokrasi liberal merupakan titik akhir dari evolusi ideologis umat manusia sekaligus bentuk final pemerintahan manusia. Runtuhnya Soviet dan ambruknya tembok Berlin menjadi pertanda kalahnya sosialisme, dan sebagai gantinya adalah perayaan dan kemenangan kapitalisme tanpa ada kompetitornya.
Teori sejarah Francis Fukuyama tentang The End of History pada satu sisi dapat menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Pada kenyataannya ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Ketika perkembangan ilmu pengetahuan terjadi, peradaban manusia akan mengalami perkembangan pula. Melalui ilmu pengetahuan, masyarakat dapat mengalami perkembangan yang salah satu dampaknya adalah lahirnya ideologi baru. 



















 




          Francis Fukuyama





 





          Francis Fukuyama









DAFTAR PUSTAKA

Francis Fukuyama.  The End of History and the Last Man, Terj. Ahmad Farid Ma’ruf.
Yogyakarta: IRCISoD, 2003.
www.sais-jhu.edu/faculty/fukuyama/index. html


[1] Francis Fukuyama, The End of History? Terjemah oleh Ahmad Faridh Ma’ruf (Yogyakarta: IRCISoD, 2003). hal. 5.
[4] Ibid.
[5] Ibid.
[6] Ibid.
[7] Francis Fukuyama, Op.Cit. hal. 6.
[8] Ibid. 
[9] Ibid. hal. 7.
[10] Ibid. hal.8.
[11] Ibid. hal.10. 
[12] Ibid. hal. 11.
[13] Ibid. hal. 17.
[14] Ibid. hal. 18. 
                [15] Ibid. hal. 19.
[16] Ibid. hal. 21.
[17] Ibid. hal. 22-23.
[18] Ibid. hal. 26. 
[19] Ibid. hal. 35.
[20] Ibid. hal. 66-67.
[21] Ibid. 
[22] Ibid.  hal.12.
[23] Ibid. hal. 85.
[24] Ibid. hal. 91. 
[25] Ibid. hal. 97.
[26] Ibid. hal. 103.
[27] Ibid. hal. 105.
[28] Ibid. hal. 108.

4 komentar: